Home Blog

Blog

SMANSA ber OUTBOND RIA di CABANA RESORT

E-mail Print PDF

Setelah bergulat dengan berbagai kegiatan-kegiatan di sekolah dan mendulang berbagai prestasi di tahun pelajaran 2011-2012, Guru beserta Tata Usaha SMA Negeri 1 Tanjungpinang menggelar acara OUTBOND ke 2 di Cabana Resort setelah OUTBOND Pertama dilaksanakan di AGRO BINTAN RESORT.......suasana keakraban mewarnai acara tersebut.

Dimulai pada tanggal 15 September 2012 pukul 14.30 WIB, Bis meluncur ke CABANA RESORT dan sampai pukul 15.30 WIB, acara pertama tiba di Cabana adalah acara bebas, disusul dengan acara "Barbeaque" pukul 19.00 WIB sembari makan malam......yang jelas penuh dengan kehangatan dan kekeluargaan,......dilanjutkan dengan acara "KARAOKE BERSAMA"....seluruh peserta outbond pada larut didalam alunan lagu-lagu yang rancak dan pada ngedance......acara dihentikan ketika lagu "BEGADANG" dinyanyikan.......(kan pesan lagu tsb : Begadang..jangan begadang...kalau tiada artinya..."......just kidding red).

Keesokan harinya setelah "Breakfast Bareng" sekitar pukul 09.00 WIB....dimulailah acara intinya : OUTBOND yang bertujuan membangun "TEAMWORK" yang solid dan sekalian refress........

Seluruh peserta dibagi menjadi 3 group: (1) diketuai oleh Raja Isnaini, S.Pd, (2) diketuai olh Syamsul Marhenis, S.Pd; (3) diketuai oleh St. M . Isa, S.Pd   . Permainan yang pertama adalah memindahkan bola ke dalam keranjang oleh seluruh peserta yang telah diikat terlebih dahulu, permainan ini dimenangkan oleh kelompok 1......permainan selanjutnya juga dimenangkan oleh kelompok 1.....dan pemenang umumnya adalah kelompok 1 yang beanggotakan : Raja Isnaini,S.Pd ; Firman Oyong,S.Pd; Desem Markogama,S.Pd, Dewi Susilowati, ST ; Marlina, S.Pd ; Erika Trisustika,S.Pd ; Ani Setianingsih,S.Ag ; ZulSyafrinas,S.Pd.

Kekompakkan yang dibangun berdasarkan kelebihan dan kekurangan anggota yang saling ditoleransikan menjadi kunci kemenangan, Kejujuran mutlak diunggulkan, juga komunikasi 2 arah yang selalu dilakukan menjadi bumbu pelengkap kemenangan......"KEEP IN SPIRIT SMAN 1 Tanjungpinang...Be Number ONE always in every COMPETITION"........(redaksi:DS)

 

Last Updated ( Sunday, 23 September 2012 22:03 )
 

Tugas Kelautan Kelas XI IPA Smt Ganjil 2012-2013

E-mail Print PDF

IKHTISAR PENGERTIAN MARITIM, KELAUTAN DAN BAHARI

Standar Kompetensi :
1.    Mampu memahami pengertian maritim.
2.    Mampu memahami pengertian kelautan.
3.    Mampu memahami pengertian Bahari
Kompetensi Dasar :
1.    Pengertian Maritim.
1.1    Siswa mampu menjelaskan pengertian maritim dan terminologi maritim.
1.2    Siswa mampu menjelaskan masa kejayaan, masa keterpurukan dan bangkitnya maritim di Indonesia.
2.    Pengertian Kelautan
2.1    Siswa mampu menjelaskan pengertian kelautan dan terminologi kelautan.
2.2    Siswa mampu menjelaskan tentang Laut Indonesia
2.3    Siswa mampu menjelaskan deskripsi laut Provinsi Kepulauan Riau
3.    Pengertian Bahari
3.1     Siswa mampu menjelaskan pengertian bahari .


MATERI PELAJARAN :

1.    Maritim                
Istilah maritim berasal dari bahasa Inggris yaitu maritime, yang berarti navigasi, maritim atau bahari. Dari kata ini kemudian lahir istilah maritime power yaitu negara maritim atau negara samudera. Pemahaman maritim merupakan segala aktivitas pelayaran dan perniagaan/perdagangan yang berhubungan dengan kelautan atau disebut pelayaran niaga, sehingga dapat disimpulkan bahwa maritim adalah Terminologi Kelautan dan Maritim berkenaan dengan laut, yang berhubungan dengan pelayaran perdagangan laut.

Perkembangan Kemaritiman di Indonesia
a.    Masa Kejayaan Kemaritiman di Indonesia 
Para ahli sejarah bangsa Eropa pernah melontarkan pernyataan bahwa sebetulnya nenek moyang bangsa Indonesia adalah mereka yang datang dari Asia Tenggara (Indochina/Yunan) dalam dua gelombang migrasi besar-besaran, yaitu pada 5000 tahunSM dan pada 2000 tahun SM melalui laut dan dalam mengarungi perjalanan tersebut sumber penghidupan mereka sangat tergantung dari laut. Fakta prasejarah Cadas Guayang terdapat di pulau-pulau Muna, Seram dan Arguni yang diperkirakan berasal dari 1000 tahun SM dipenuhi dengan lukisan perahu-perahu layar. Juga ditemukan beberapa artefak suku Aborigin di Australia yang diperkirakan berasal dari 2500 tahun SM serupa yang ditemukan di pulau Jawa. Kenyataan ini memberikan indikasi bahwa jauh sebelum gelombang migrasi dari Indochina yang datang ke Indonesia, nenek moyang bangsabangsa Nusantara sudah berhubungan dengan suku Aborigin di Australia lewat laut. Peninggalan prasejarah bekas kerajaan Merina yang didirikan oleh perantau dari Nusantara ditemukan juga di Madagaskar, hal ini menunjukkan bahwa nenek moyang penduduk Nusantara pada masa itu telah memiliki teknologi pembuatan perahu bercadik dan perahu layar yang mampu mengarungi samudera dengan medan yang sangat berat. Jejak prasejarah bercirikan istilah maritim juga ditemukan di wilayah rumpun bahasa Austronesia, di mana pengaruh istilah maritim bahasa Nusantara terasa sangat kuat di bandingkan dengan pengaruh rumpun bahasa lainnya. Bertolak dari bukti prasejarah nusantara itu memberikan indikasi bahwa nenek moyang bangsa Nusantara adalah asli pelaut dan pengembara, dan sejak ribuan tahun sebelum Masehi sudah mampu menghadapi gelombang besar melewati samudera Pasifik dan samudera Hindia. Kenyataan sejarah ini memperlihatkan bahwa bangsa nusantara adalah pelaut-pelaut ulung yang jejak kebudayaannya masih dapat diikuti sampai sekarang.
Pada jaman Hindu-Budha mulai menyebar kebudayaannya di kepulauan Nusantara, kerajaan-kerajaan di nusantarapun melakukan kegiatan maritim aktif, baik intra insular ataupun ekstra insular, hingga ke India dan Cina. Kepulauan Nusantara waktu itu merupakan wilayah yang kaya dengan komoditas perdagangan, dan geoposisi wilayah nusantara merupakan posisi silang dimana terdapat jaringan komunikasi dan transportasi maritim (misalnya rute Cina -Taruma -India), ditandai dengan ditemukannya artefak Cina dan India di Situs Batu Jaya Karawang. Salah satu kerajaan Budha yang berada di kepulauan nusantara yaitu Kerajaan Sriwijaya berjaya berdasarkan visi kemaritimannya yang menguasai jaringan transportasi dagang, jaringan komoditas dan jaringan pelabuhan terutama di sekitar Selat Malaka. Selain itu pemerintahan maritimnya kuat dan efektif serta tercatat sebagai pemerintahan dengan kekuatan laut yang diperhitungkan.
Kebesaran Kerajaan Sriwijaya itu dibuktikan dengan berbagai penemuan prasasti diantaranya adalah Kedukan Bukit ( 683 M) di Palembang, Prasasti Talang Tuwo ( 684 M) di sebelah barat Palembang, Prasasti Kota Kapur (686 M) dibagian barat Pulau Bangka, Prasasti-prasasti Siddhayatra di daerah Palembang, Prasasti 3 Telaga Batu ( 683 M) di Palembang. Selain itu ada Prasasti Karang Birahi di Jambi, Prasasti Ligor (775 M) di Tanah Genting Kra, yang melengkapi penemuan bukti-bukti peninggalan sejarah bangsa pada masa lampau. Penemuan berbagai bukti sejarah keberadaan Sejarah Sriwijaya ini sangat penting untuk mengetahui perjalanan panjang dan mata rantai sejarah Nusantara khususnya mengenai kemaritiman. Di pulau Jawa terdapat kerajaan Hindu Majapahit yang mencapai puncak kejayaannya pun berdasarkan visi maritimnya. Wilayah kekuasaannya merupakan sebaran kerajaan bawahan yang memiliki pelabuhan dan komoditas dagang vital terutama beras. Kapal-kapal dan  pelaut-pelaut Jawa tercatat dalam kronik-kronik di mancanegara(Sukodaya-Thailand dan Pegu-Myanmar) sebagai manifestasi kejayaan negara maritim Majapahit yang juga menjadi pusat budaya dan peradaban di Nusantara. Selain itu kekuatan maritimnya merupakan modal dasar untuk melakukan kolonisasi, ekspansi dan penetrasi budaya di zaman tersebut. Hal ini terlihat ketika seorang putera bangsa yang bernama Mahapatih Gajah Mada ingin menyatukan kerajaan-kerajaan kecil Nusantara di bawah koordinasi Kerajaan Majapahit. Tidak dapat dikatakan apakah Mahapatih Gajah Mada berwawasan maritim atau tidak, tetapi apa yang telah dilakukan oleh orang besar tersebut merupakan sikap yang benar dalam konteks kebijakan Kerajaan Majapahit dalam wilayah perairan Nusantara yang negeri pasalnya berjumlah berpuluh-puluh baik di pulau Sumatera maupun di pulau Kalimantan. Wawasan ini tentu saja memiliki implikasi yang menyangkut strategi dan kebijakan kerajaan tersebut dalam pengelolaan serta pemanfaatan laut utamanya dalam masalah transportasi serta pertahanan wilayah Majapahit sebagai pusat kerajaan yang harus mampu meng-kordinasi negeri kekuasaannya serta melindungi diri dari serangan musuh. Sistem transportasi perhubungan laut Majapahit konon diambil alih oleh Pemerintahan Hindia Belanda ketika berkuasa di wilayah Nusantara. Melihat kepada kondisi ‘maritim’ Majapahit serta potensi laut yang luar biasa selain sebagai sarana perhubungan, maka orientasi masyarakat Nusantara secara total dialihkan menjadi masyarakat darat dan dipekerjakan sebagai tenaga paksa dan kerja rodi. Dengan demikian, semangat kebaharian masyarakat Nusantara terpadamkan oleh situasi dan kondisi sosioekonomi serta budaya yang dengan sengaja ditransformasi oleh Belanda demi kepentingan ekonomi Belanda. Dengan langkah-langkah yang di lakukan terhadap penduduk asli Nusantara, Pemerintah Hindia Belanda menjalankan visi kemaritimannya, yaitu dengan menguasai wilayah perairan Nusantara dari kawasan Utara: Ternate dan Tidore, kawasan Tengah: Makasar, kawasan Selatan Batavia dan sepanjang Pantura (pantai Utara Pulau Jawa).
Sementara itu, kerajaan dan kesultanan Islam pesisir utara Jawa, Demak, Bintara, Tuban, Lasem dan Jepara melanjutkan tradisi maritim Majapahit sekaligus menyebarkan (prolifikasi) agama Islam dan menantang keberadaan kekuatan maritim Portugis yang mulai merajalela di Nusantara karena dorongan dinamika lingkungan ekonomi strategis (direbutnya Konstantinopel oleh Turki Osmani yang mengakibatkan terganggunya perdagangan komoditas rempah-rempah dan barang mewah dari Asia). Pada masa yang sama, kerajaan Bantenpun berkembang menjadi kekuatan maritim yang mengendalikan wilayah barat Nusantara dan mengendalikan perdagangan lada.
Peran kekuatan maritim Demak digantikan oleh Mataram yang sampai abad ke - XVII masih dapat diperhitungkan sebagai negara maritim. Perubahan visi pemerintahan dan kekalahan dalam persaingan melawan VOC (kompeni dagang Hindia Timur) membuat Mataram kemudian menjadi lemah dan bervisi darat. Abad ke-XVII ditandai juga dengan berjayanya kerajaan maritim Aceh yang melanjutkan tradisi Sriwijaya menjadi kekuatan maritim yang mengendalikan alur laut perdagangan di sekitar Selat Malaka sampai awal abad ke-XVIII sebelum kemudian tidak lagi sanggup bersaing dengan kekuatan maritim imperialis barat Belanda dan Inggris. Di kepulauan Nusantara bagian Timur, Kesultanan Makasar dan konfederasi kerajaan etnis Bugis (Bone, Sawito, Luwu, Tanete dan lain-lain) yang berwawasan Maritim menjadi dua kekuatan yang mengendalikan wilayah perdagangan dan wilayah komoditas. Sifat diaspora (penyebaran) kedua kelompok etnis ini membuat mereka hadir dimana-mana dan dapat mempertahankan budaya Maritimnya hingga sekarang, meskipun kedua kerajaan tersebut pun tidak sanggup menghadapi kekuatan maritim imperialis Barat (VOC maupun Belanda).
Untuk wilayah bagian timur terdapat Kesultanan Ternate dan Tidore, yang menguasai sumber komoditas sangat penting seperti rempah-rempah, dan mengendalikan pula perdagangan dan jaringan transportasi serta komunikasi Wilayah Timur Nusantara. Tradisi insularitas kedua kesultanan ini sangat terlihat dan merupakan satu ciri pemahaman geostrategi ’perfect isolation’ di Kepulauan Nusantara.

2.    Kelautan
Laut merupakan kumpulan air asin yang luas sekali di permukaan bumi yang memisahkan pulau dengan pulau, benua dengan benua, misalnya Laut Jawa, dan Laut Merah sedangkan lautan merupakan laut yang luas sekali, seperti Lautan Atlantik, Lautan Pasifik
Kelautan yang terdiri dari kata laut dan lautan. Definisi kelautan yang tampak sangat luas termasuk mencakup istilah kemaritiman. Istilah kelautan dipakai karena istilah ini lebih luas dan bersifat publik dari pada sekedar menggunakan istilah kemaritiman, sehingga pengertian kelautan adalah hal-hal yang berhubungan dengan laut. Laut dan kelautan dalam kamus tersebut tidak menunjuk kepada Konvensi PBB tentang hukum Laut 1982 (UNCLOS). Secara terminologi pengertian kelautan mencakup aspek yang sangat luas yaitu termasuk ruang/wilayah udara di atas permukaan air laut, pelagik (dari permukaan sampai 200 m kolom air), mesopelagik (pelagik sampai kedalaman 500 m), abisal (kedalaman 500 – 700 m) hingga mencapai dasar laut (under the sea) yang dikenal sebagai landas kontinen.

3.    Bahari
Bahari berarti dahulu kala, kuno, tua sekali, (contoh: zaman bahari = zaman dahulu), indah, elok sekali, mengenai laut, bahari, atau yang dilindungi, misalnya raja bahari berarti raja yang dilindungi (oleh dewa - dewa). Sedangkan Kebaharian adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan laut, dan kelautan. Orang yang bekerja di laut atau pelayaran, disebut pelaut. Kamus ini menerangkan bahwa salah satu maksud dari kata bahari adalah laut, sehingga kalau orang mengatakan wisata bahari berarti wisata laut atau wisata yang berhubungan dengan laut atau wisata dengan objeknya laut.

TUGAS KELAUTAN 1:
1. Buatlah FLOWCHART (alur) tentang pengertian Maritim, Kelautan dan Bahari
2. Kirim ke alamat email : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
3. Dateline          : 1 September 2012
4. Note               : Bagi yang tidak mengirimkan tugas "tidak mendapatkan nilai tugas 1 dari mata pelajaran Muatan Lokal Kelautan.
5. TTD               : Guru Mapel Kelautan ; DEWI SUSILOWATI,ST

Last Updated ( Monday, 13 August 2012 00:08 )
 

SMANSA Tanjungpinang Membentuk Karakter Anak Bangsa Melalui Seni Membatik

E-mail Print PDF

Batik Indonesia secara resmi telah diakui oleh UNESCO. Batik dimasukkan ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak  Benda Warisan Manusia (representative list of the intangible cultural heritage of humanity) dalam Sidang ke-4 Komite Antar-Pemerintah (fourth session of the intergovernmental committee) tentang Warisan Budaya Tak Benda di Abu Dhabi. UNESCO mengakui batik Indonesia bersama dengan 111 nominasi mata budaya dari 35 negara, dan yang diakui dan dimasukkan dalam Daftar Representatif sebanyak 76 mata budaya. Sebelumnya pada tahun 2003 dan 2005 UNESCO telah mengakui Wayang dan Keris sebagai Karya Agung Budaya Lisan dan Tak Benda Warisan Manusia (masterpieces of the oral and intangible cultural heritage of humanity) yang pada tahun 2008 dimasukkan ke dalam Daftar Representatif.

Disadari atau tidak  batik Indonesia sarat dengan teknik, simbol, dan budaya yang tidak lepas dari kehidupan masyarakat Indonesia mulai dari lahir sampai meninggal. Kekayaan ragam batik yang datang dari beberapa wilayah dan provinsi, menjadi bukti bahwa Indonesia layak menjadi sumber budaya di mana batik tumbuh dan berkembang. Tradisi membatik diturunkan dari generasi ke generasi. Batik terkait dengan identitas budaya rakyat Indonesia dan melalui berbagai arti simbolik dari warna dan corak mengekspresikan kreativitas dan spiritual rakyat Indonesia. Batik Indonesia memiliki keunikan yang tidak ditemukan di negara lain. Bagi masyarakat Jawa misalnya, batik bukan hanya sebuah kain bercorak, tetapi juga penggambaran filosofi kehidupan dan warisan budaya leluhur yang harus dijaga.

Tulisan singkat ini, dengan segala kekurangan dan keterbatasan ilmu penulis dan sebagai seorang awam, akan mencoba mengangkat “cermin” kealfaan itu sekaligus mencari bentuk  sintesis pemecahan masalah identitas kebudayaan bangsa. 
Derasnya arus informasi akhirnya menyebabkan lunturnya kecintaan masyarakat terutama generasi muda bangsa terhadap peninggalan budaya tradisional (budaya asli) warisan nenek moyang. Anak-anak, generasi muda dan kaum dewasa, kini tidak lagi mempunyai rasa ketertarikan dan minat terhadap budaya asli Indonesia. Bahkan parahnya ada sebagian golongan yang apatis dan apriori terhadap budayanya sendiri. Kondisi ini semakin diperparah dengan makin sukanya masyarakat mengadopsi dan bangga terhadap budaya asing. Mereka lebih gengsi berperilaku seperti orang barat dengan keseniannya juga, serta meletakkan posisi budaya bangsa sebagai budaya yang marginal atau kelas rendahan.
Menyikapi perkembangan zaman, selanjutnya, kebudayaan nasional Indonesia perlu diisi oleh nilai-nilai dan norma-norma nasional sebagai  pedoman bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di antara seluruh rakyat Indonesia. Termasuk di dalamnya adalah nilai-nilai yang menjaga kedaulatan negara dan integritas teritorial yang menyiratkan kecintaan dan kebanggaan terhadap tanah air, serta kelestariannya, nilai-nilai tentang kebersamaan, saling menghormati, saling mencintai dan saling menolong antar sesama warganegara, untuk bersama-sama menjaga kedaulatan dan martabat bangsa.  Pembentukan identitas dan karakter bangsa sebagai sarana  bagi pembentukan pola pikir (mindset) dan  sikap mental, memajukan adab dan kemampuan bangsa, merupakan tugas utama dari pembangunan kebudayaan nasional (diantaranya dengan seni membatik). Singkatnya, dengan membatik yang merupakan bagian dari kebudayaan nasional sebagai sarana pembentukan karakter atau watak bangsa didalam mewujudkan masa depan bangsa yang cemerlang.
Untuk itu SMANSA Tanjungpinang juga ikut menyukseskan pembentukkan identitas dan karakter bangsa melalui seni membatik seperti yang diajarkan oleh Drs Rusmianto didalam mata pelajaran “Seni dan Budaya”. Tq

Last Updated ( Friday, 17 February 2012 12:53 )
 

Pendidikan Budi Pekerti Berasas Pancasila dan Gurindam 12

E-mail Print PDF

Pendidikan Budi PekertiSudah hampir 14 tahun perjalanan Era Reformasi , yang paling terasa adalah begitu derasnya fakta-fakta krisis moral atau demoralisasi di semua sisi kehidupan dan lapisan masyarakat. Tontonan kejadian-kejadian yang mencerminkan penyakit moral baik di lingkungan masyarakat bawah hingga atas, baik anak-anak maupun orang tua, sudah menjadi menu santapan sehari-hari oleh kita semua di seluruh media massa yang ada baik media cetak maupun elektronik. Pertelingkahan politik dan carut-marutnya penegakan hukum yang terjadi membuat Pemerintah semakin tidak berdaya menahan arus demoralisasi ini. Semakin nyata sudah bahwa di Era Reformasi ini, nilai-nilai budi pekerti luhur sebagai karakter bangsa ini sudah semakin punah.

Rakyat ini merindukan keamanan dan ketertiban yang dirasakan pada saat Orde Baru dahulu. Bangsa ini harus mencari kembali akar budayanya, sebagai nilai-nilai dasarnya atau basic and core values –nya. Maka sempena Kebangkitan Nasional tahun ini semua sepakat bahwa nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam Pancasila sebagai ideologi kehidupan berbangsa dan bernegara harus ditanamkan dan diinternalisasikan kedalam sendi-sendi hidup dan kehidupan bangsa ini. Bahwa MPR-pun sudah menetapkan bahwa Pancasila kembali diajarkan di sekolah. Bahwa pendidikan budi pekerti harus dilaksanakan secara terprogram, sistematis, komprehensif dan holistik terutama di sekolah melalui kurikulum yang ada.

Tema Peringatan Hari Pendidikan Nasional kita tahun 2011 ini adalah “Raih Prestasi, Junjung Tinggi Budi Pekerti”. Begitulah penekanan atau stressing point Pendidikan Nasional kita dalam membangun bangsa ini, dimana Pendidikan Budi Pekerti harus diajarkan sejalan dengan pembelajaran materi kurikulum yang ada. Dalam hal Pendidikan Budi Pekerti, bapak Menteri Pendidikan Nasional menegaskan salah satu cara yang paling utama dalam pendidikan budi pekerti adalah dengan mengajarkan tradisi dan budaya.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melalui Dinas Pendidikan telah dan sedang melaksanakan Program-program kegiatan pendidikan budi pekerti, seperti mengadakan TOT (Training of Trainer) guru dari jenjang SD/MI sampai SMA/MA tentang Pendidikan Budi Pekerti untuk mata pelajaran Pend.Agama, PKn dan Bahasa Indonesia. Dengan segenap potensi tradisi budaya Melayu yang dimiliki dari zaman ke zaman, terutama Gurindam 12 sebagai ajaran dan pegangan hidup masyarakat di Kepulauan Riau ini, penyelenggaraan pendidikan budi pekerti di sekolah di Provinsi Kepulauan Riau ini hendaknya mencerminkan dan mengajarkan pula nilai-nilai tradisi budaya melayu kepada peserta didik. Banyak ajaran berupa tunjuk ajar dan pantang larang sebagai panduan hidup masyarakat melayu pada zaman dahulu, yang telah terbukti dapat membentuk karakter bangsa melayu yang santun dan berbudi pekerti, sudah mulai diabaikan dan dilupakan.

Dalam TOT Pendidikan Budi Pekerti ini, para guru peserta TOT diarahkan dan dilatih untuk menyusun format dan pedoman pengintegrasian nilai budi pekerti dan budaya melayu kedalam pembelajaran. Nilai budi pekerti dan budaya melayu dalam pendidikan budi pekerti di Provinsi Kepulauan Riau ini adalah berupa nilai-nilai karakter bangsa sesuai dengan SKL dan SK/KD yanga ada dari tiap jenjang pendidikan, nilai-nilai luhur Pancasila dan Gurindam 12. Pancasila dan Gurindam 12 harus diajarkan dengan secara nyata dan tegas di sekolah, tidak hanya oleh guru mata pelaran tertentu saja seperti PKn, B.Indonesia dan Pendidikan Agama tetap juga pada Mata Pelajaran lainnya. Hanya saja bagaimana format dan bentuk pengintegrasian nilai-nilai itu dilakukan oleh pendidik harus dipersiapkan secara komprehensif dan sistematis sehingga tidak terjadi kesalahpahaman (misunderstanding) dan kerancuan dalam pelaksanaannya di kelas. Karena pendidikan budi pekerti bukan hanya tanggung jawab dari semua guru mata pelajaran bukan guru mata pelajaran tertentu saja.

Penulis, sebagai salah seorang nara sumber dalam kegiatan TOT Pendidikan Budi Pekerti tersebut meyakini betul bahwa dengan format dan pola pengintegrasian budi pekerti dan budaya melayu yang sedang disusun pada TOT tersebut akan dapat menjadi pedoman dan panduan bagi semua guru di Provinsi Kepulauan Riau ini dalam mengajarkan nilai-nilai budi pekerti dan Budaya Melayu di kelas. Tujuan utama dari pendidikan budi pekerti di Provinsi Kepulauan Riau ini adalah bagaimana kultur sekolah yang ada di Provinsi ini benar-benar ditata dan dikelola mencerminkan budi pekerti yang luhur berasas budaya melayu, dan proses pembelajaran di kelas diwarnai dengan pendidikan budi pekerti dan dihiasi tradisi budaya melayu.Tradisi budaya melayu yang dijadikan media dan sumber pendidikan budi pekerti adalah Gurindam 12, Pantun, Syair, Bidal, Ungkapan Pribahasa
dan Pantang Larang, Cerita Rakyat dan lainnya. Gurindam 12 dijadikan sebagai nilai-nilai budi pekerti tersendiri sebagaimana halnya Pancasila, karena Gurindam 12 karya Raja Ali Haji sudah menjadi icon dari pendidikan budi pekerti masyarakat melayu Kepulauan Riau. Gurindam 12 yang diterbitkan pertama dalam teks Jawi (Arab Melayu) dan diterjemahkan ke bahasa Belanda oleh E.Netscher, yang dimuat dalam Tijdschrift van het Bataviaash Genootschap II tahun 1985, berisi tentang pedoman agtau ajaran dalam menjalani hidup dan kehidupan agar kita menjadi manusia yang sesungguhnya sebagai makhluk Allah di muka bumi ini sehingga akan beroleh kebahagiaan dan keselamatan sama ada di dunia ataupun di akhirat. Sebab itu dalam pendidikan budi pekerti Gurindam 12 ditempatkan sesanding seiring dengan Pancasila. Berikut beberapa bait Gurindam 12.

Barang siapa tiada memegang agama

Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

(Bait 1 Pasal 1)

Barang siapa meninggalkan sembahyang

Seperti rumah tiada bertiang

(Bait 2 Pasal 2)

Apabila terpelihara lidah

Niscaya dapat daripadanya faedah

(Bait 3 Pasal 3)

PAIKEM dengan Tradisi Budaya Melayu

PAIKEM didefinisikan sebagai pendekatan mengajar (approach of teaching) yang digunakan bersama metode tertentu dan berbagai media pengajaran yang disertai penataan lingkungan sedemikian rupa agar proses pembelajaran menjadi aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Sebagaimana kepanjangan PAIKEM itu yakni Pembelajaran yang Aktif, Inovatif, Kreatif, Effektif dan Menyenangkan. Dengan demikian, para siswa merasa tertarik dan mudah menyerap pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan. Selain itu, PAIKEM juga memungkinkan siswa melakukan kegiatan yang beragam untuk mengembangkan sikap, pemahaman, dan keterampilannya sendiri dalam arti tidak semata-mata “disuapi” guru.

Dalam kaitannya dengan tradisi budaya melayu, proses pembelajaran akan semakin PAIKEM apabila diwarnai dengan Pantun, Syair, Bidal, Ungkapan Pribahasa dan Pantang Larang, dan Cerita Rakyat. Dapatlah kita bayangkan sebegitu menarik dan menyenangkannya kalau para guru sekali-sekali menggunakan pantun dalam pembelajaran di kelas. Saat siswa sudah mulai tidak konsentrasi dalam pelajaran, guru dapat menarik perhatian mereka dengan pantun, apabila guru ingin menyampaikan pesan dan nasehat dapat pula menggunakan pantun. Dengan pantun isi atau makna pengajaran dan nasehat dapat lebih sedap didengar dan akan lebih ‘terasa’ tertanam dalam hati sanubari. Karena dengan seni olah kata dalam pantun akan dapat menyentuh hati dan perasaan siswa sehingga akan memberikan kesan yang lebih dalam. Seperti contoh pantun berikut yang ditulis oleh salah seorang guru PKn peserta TOT.

Kain sorban bersama peci

Baik dipakai dikala shalat

Hanya Allah Yang Maha Suci

Jangan lupakan setiap saat


Dikala senja membaca kitab

Kitab dibaca dengan alunan

Jika saudara orang beradab

Sikap adil jadi cerminan


Pantun disini adalah sebagai media pembelajaran, dengan pantun guru dapat menyampaikan materi bahan ajar atau petunjuk ajar budi pekerti yang semestinya diketahui dan dimiliki oleh para siswa. Sebab itu pantun tidak hanya ada pada mata pelajaran B.Indonesia saja, tetapi dapat disampaikan di semua mata pelajaran. Guru Matematika, IPA, IPS dan yang lainnya dapat memanfaatkan pantun Begitu sebagai media pembelajaran.

Begitu juga halnya dengan Syair, Bidal, Ungkapan, Pribahasa, Pantang Larang, dan Cerita Rakyat, tinggal lagi bagaimana mempersiapkan guru yang mahir merancang proses pembelajaran di kelasnya yang diwarnai dengan unsur-unsur tradisi budaya ini dengan tanpa mengurangi substansi materi bahan ajar sesuai dengan target kurikulum. Untuk itulah perlu pendidikan dan pelatihan serta petunjuk teknis bagi para guru dari jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA dan SMK.

Membangun Komitmen Kebijakan Bersama

Ditandai dengan pelepasan balon oleh Gubernur Kepulauan Riau H.Muhammad Sani di halaman kantor Gubernur Kepulauan Riau, pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional tanggal 21 Mei 2011 yang lalu, Pendidikan Budi Pekerti Yang berasas Pancasila dan Gurindam 12 sudah mulai diprogramkan dan dilaksanakan di sekolah di seluruh provinsi Kepulauan Riau ini. Melalui para guru peserta TOT pendidikan budi pekerti yang berasal dari 7 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Kepulauan Riau ini, Format Pendidikan Budi Pekerti melalui Pengintegasian Nilai Budi Pekerti dan Budaya Melayu dapat ditumbuhkembangkan dan diaplikasikan di daerah kabupaten/kota masing-masing. Secara bertahap setelah Pelaksanaan TOT, dilanjutkan dengan Penyiapan Buku Panduan Pendidikan Budi Pekerti di Provinsi Kepri, upaya desiminasi kepada seluruh stakeholder Pendidikan daerah, pelaksanaan sistem pendidikan budi pekerti yang sistematis dan holistik pada sektor dinas pendidikan di pemerintah kabupaten/kota dan Provinsi Kepulauan Riau.

Penulis membayangkan semua kita baik sebagai anggota masyarakat, orang tua, guru, kepala sekolah, pengawas, dinas pendidikan kabupaten/kota dan provinsi bahkan anggota DPRD, Bupati/Walikota dan Gubernur salling bekerjasama bahu membahu dengan satu visi, misi, komitmen dan arah kebijakan dan program yang sama yakni menyelenggarakan pendidikan budi pekerti dengan berasaskan Pancasila dan Budaya Melayu guna mewujudkan SDM Kepri yang memiliki prestasi yang tinggi dan menjunjung tinggi budi pekerti. Policy Kebijakan Gubernur Kepri yang sudah tidak diragukan lagi terhadap Pendidikan Budi Pekerti, dan juga Bupati dan Walikotanya mengakomodir dan memfasilitasi Program Pendidikan Budi Pekerti di Kabupaten/Kota. Selanjutnya Dinas Pendidikan Provinsi mengadakan Pendidikan dan Pelatihan berupa TOT dan sebagainya, mempersiapkan Petunjuk Teknis dan Pedoman, dan mengkoordinasikan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota untuk memfasilitasi, mengkoordinasikan, dan mengevaluasi pelaksanaan pendidikan budi pekerti sebagai upaya pemetaan pelaksanaan pendidikan budi pekerti di daerah masing-masing. Kepala sekolah menata dan mengelola sekolah baik fisik maupun non fisik, baik akademis maupun non akademis, yang mencerminkan sebagai sekolah penyelenggara pendidikan budi pekerti dan budaya melayu. Para guru menyiapkan dan melaksanakan proses pembelajaran yang mengintegrasikan pendidikan budi pekerti dan nilai budaya melayu di kelasnya masing-masing. Para orang tua dan masyarakat bekerja sama dengan sekolah, melalui komunikasi yang intensif dan proaktif dalam membina budi pekerti anak, keluarga dan warga mereka. Adanya sistem pemberian penghargaan (reward) bagi pihak sekolah, guru, dan daerah kabupaten/kota yang telah menyelenggarakan pendidikan budi pekerti dengan baik dan memberikan “Assistensi” bagi yang belum optimal melaksanakannya. Penghargaan dapat berupa hadian piala, sertifikat dan uang pembinaan, sedangkaan “assistensi” dapat berupa bantuan atau subsidi dana dan tenaga bimbingan dan pembinaan.

Dengan adanya kondisi kerja sama yang harmonis dan kooperatif sedemikian dalam bayangan, penulis yakin dan percaya lambat laun, pendidikan budi pekerti Provinsi akan membuahkan hasil berupa SDM yang unggul dalam pengetahuan dan keterampilan, santun dalam budi bahasa.

Last Updated ( Friday, 03 February 2012 17:25 )
 

Membuka Kunci Belenggu Wacana Prestasi Akademik

E-mail Print PDF

Belenggu Wacana Pendidikan

Penulis tertarik dengan terminologi Wacana Prestasi Akademik dan Wacana Perkembangan Manusia oleh Thomas Armstrong,Ph.D, seorang akademisi dan telah menulis banyak buku-buku pendidikan diantaranya best seller Multiple Intelligences in the Classroom. Tulisan beliau dalam bukunya The Best Schools: How Human Development Research Should Inform Educational Practice (Virginia, 2006) telah diterjemahkan oleh Lovely dan Mursid Widjanarko (2001) memaparkan secara faktual dan ilmiah kegalauan beliau terhadap paradigma pendidikan yang ada sekarang ini yang sudah mulai bergeser jauh dari tujuan utama sekolah yakni untuk mendidik siswa menjadi manusia seutuhnya.

Istilah Wacana Prestasi Akademik adalah suatu paradigma di dalam masyarakat umum yang memandang bahwa tujuan pendidikan semata-mata untuk mendukung, mendorong dan memfasilitasi kemampuan siswa dalam meraih nilai tinggi dan nilai tes standar dalam pelajaran sekolah, terutama pelajaran-pelajaran yang diujikan secara nasional.

Sedangkan Wacana Perkembangan Manusia sebagai suatu paradigma yang memandang bahwa pendidikan sebagai suatu upaya memfaslitasi perkembangan manuasia yang bertujuan untuk mengungkapkan atau melejitkan potensi yang terdapat dalam diri manusia, dan juga makna mengurai, membuka atau membebskan manusia dari keterkukungan, kerumitan atau rintangan.

Kritisi Wacana Prestasi Akademik

Dari dua wacana tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya sistem pendidikan kita menganut Wacana Prestasi Akademik. Sebagai pendidik, pengajar, peserta didik, orang tua, masyarakat dan juga pemerintah selama ini orientasi tujuan kita dalam belajar dan mengajar adalah membuat anak berhasil secara akademis yang ditandai dengan angka-angka nilai ujian. Prestasi akademik siswa ditekankan muatan akademik (kesusasteraan, sains dan matematika) dan keterampilan akademik (membaca, menjlis, memecahkan masalah dan berpikir kritis, plus keterampilan Teknologi Informasi dan Komputer).

Dengan Wacana Prestasi Akademik, kurikulum pendidikan kita cenderung ketat, seragam dan wajib bagi semua siswa hampir tanpa pengecualian. Siswa dituntut untuk menerima pelajaran yang sama semuanya, makin lama makin sulit; mendengarkan penjelesan guru lebih lama; belajar lebih keras; mengerjakan pekerjaan rumah lebih banyak daripada yang mereka alami sebelumnya; dan lebih banyak membaca, menulis, serta terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah.

Siswa dijejali dengan muatan kurikulum yang ketat, untuk menjawab tantangan masa depan yang semakin sulit. Ujian Nasional dengan standar nilai kelulusan yang sedemikian tinggi bagi seluruh siswa tanpa ‘pengecualian’, dengan pandangan visi kedepan mempersiapkan generasi yang mampu bersaing secara global dengan kemampuan muatan akademik dan keterampilan akademik yang dimiliki. Jika kebanyakan siswa yang tidak mencapai standar nilai Ujian Nasional yang ditetapkan, pihak legislatif dalam hal ini DPR dan DPRD menilai pemerintah telah gagal melaksanakan sistem pendidikan yang telah diamanatkan. Pemerintah yang dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ditingkat Pusat dan daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota) menganggap Satuan Pendidikan (Sekolah) telah gagal menyelenggarakan proses pendidikan yang baik sehingga siswa banyak yang tidak lulus Ujian Nasional. Kepala Sekolah kecewa atas kerja keras guru selama ini yang telah melaksanakan proses belajar mengajar di kelas walaupun sebagian besar siswanya masih banyak yang lulus. Guru merasa kasihan dan prihatin atas masa depan siswanya yang tidak lulus, karena banyak diantara mereka yang justru memiliki potensi yang jauh lebih baik dibandingkan mereka yang lulus. Siswa yang tidak lulus seperti divonis ‘gagal’ dalam hidup dan kehidupannya, terbanyang masa depan yang gelap di depan mata. Begitu pula halnya dengan orang tua mereka, ada rasa malu membayangi antar sesama orang tua dan tetangga lainnya karena anak mereka tidak lulus Ujian Nasional, justru cendrung menyalahi dan mengadili anak mereka yang tidak lulus karena tidak sungguh-sungguh belajar dan dianggap tidak amanah kepada orang tua.

Begitulah segelintir rangkaian asumsi yang membangun Wacana Prestasi Akademik yang mewarnai pendidikan kita pada saat ini. Pasti kita semua sepakat bahwa prestasi akademik itu adalah hal yang baik. Kita semua pasti menginginkan siswa yang bekerja keras, banyak belajar, mendapat nilai yang bagus, dan nantinya akan menjadi seseorang yang berguna dalam hidupnya. Masalahnya paradigma pendidikan kita sekarang ini lebih sebatas pada kerangka memikirkan skor nilai ujian saja, banyak sekali aspek dan makna pendidikan yang sepertinya terabaikan, memudar tertutupi dengan pemikiran akan nilai-nilai ujian semata. Kalaupun ada wacana Pendidikan Karakter masih sebatas wacana pembuka saja, belum menyentuh kepada substansi operasional yang dapat diimplementasikan terutama di dalam kelas.

Dampak Negatif Wacana Prestasi Akademik

Konsentrasi kita yang berlebihan untuk menciptakan dan mencapai standar yang sama, mengimplementasikan kurikulum yanag ketat dan menaikkan nilai-nilai ujian, menimbulkan konsekuensi atau dampai negatif yang nyata bagi pendidikan kita. Beberapa dampak negatif tersebut diuraiakan oleh Armstrong sebagai berikut:

1. Wacana Prestasi Akademik menimbulkan bidang-bidang yang terabaikan di kurikulum, yang merupakan bagian dari pendidikan secara utuh yang diperlukan siswa guna meraih keberhasilan dan pemenuhan dalam hidup.

Karena konsentrasi kita pada pencapaian hasil Ujian Nasional semata, yang hanya terfokus pada mata pelajaran tertentu saja, sehingga pelajaran yang lainnya seperti Agama, PKn, Seni Budaya, Penjaskes dan lainnya terabaikan dan dianggap tidak penting. Padahal banyak siswa yang memiliki potensi yang tinggi dalam bidang Seni Budaya dan Olahraga misalnya yang justru dapat menjadi kunci sukses keberhasilan mereka di masa yang akan datang.

2. Wacana Prestasi Akademik mengakibatkan terjadinya pengabaian intervensi instruksional positif yang tidak bisa dinilai oleh data dari penelitian ilmiah.

Sistem pendidikan di sekolah yang menyamaratakan siswa, program, cara dan target belajar mereka dalam satu kelas, hampir tidak memberi peluang kepada guru untuk melakukan tindakan-tindakan instruksional positif tertentu kepada siswa tertentu yang mungkin tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan karena tidak bisa diteliti secara ilmiah. Sehingga guru sangat jarang melakukan tindakan-tindakan luar biasa untuk membantu siswa memahami satu materi pelajaran selain melakukan kegiatan pembelajaran biasa pada umumnya.

3. Wacana Prestasi Akademik mendorong pengajaran hanya demi persiapan menghadapi ujian.

Momok Ujian Nasional yang merupakan tujuan dan target keberhasilan pendidikan di sekolah membuat sekolah dan guru melakukan rekayasa proses pembelajaran hanya untuk menghadapi ujian saja. Sehingga seringkali proses belajar mengajar di kelas tidak ubahnya seperti kelas Bimbingan Belajar (Bimbel). Bahkan beberapa sekolah ternama di kota-kota besar di Indonesia tidak malu-malu lagi bekerjasama dengan pihak Lembaga Bimbingan Belajar dengan mengalokasikan jadwal jam pelajaran tersendiri setiap hari untuk persiapan menghadapi Ujian Nasional.

4. Wacana Prestasi Akademik mendorong siswa menyontek dan menjiplak

Takut gagal dan mendapat nilai dibawah standar Ujian Nasional yang telah ditetapkan oleh Pemerintah, menyebabkan siswa berusaha menyontek dan menjiplak untuk mendapatkan nilai yang lebih baik. Hal ini disebabkan karena orientasi keberhasilan belajar siswa hanya diukur dengan angka-angka nilai semata, yang tertanam pada pikiran siswa adalah bagaimana mendapatkan nilai bukan ilmu yang berguna bagi hidup dan kehidupan mereka.

5. Wacana Prestasi Akademik mendorong manipulasi hasil ujian oleh guru dan kepala sekolah

Di banyak sekolah di seluruh Indonesia, kepala sekolah dan guru melakukan praktik manipulasi hasil ujian dan praktik kecurangan dalam penyelenggaraan Ujian Nasional, agar siswa-siswa mereka mendapat nilai yang baik, sehingga sekolah mereka dianggap berhasil. Ditambah lagi Pemerintah Daerah mengiming-imingkan penghargaan dan hadiah kepada sekolah yang meraih kelulusan 100%, hal ini menambah kuat mengakarnya Wacana Prestasi Akademik. Bukan proses dan cara bagaimana mempersiapkan siswa dengan ilmu-ilmu yang berguna yang menjadi perhatian, tetapi berapa persentase kelulusan yang menjadi pertimbangan apakah sekolah (kepala sekolah dan guru) berhasil atau tidak.

6. Wacana Prestasi Akademik mendorong siswa menggunakan bahan-bahan ilegal untuk membantuk menigkatkan kinerja belajar.

Tuntutan dan tekanan kepada seluruh siswa untuk mencapai target nilai Ujian Nasional yang telah ditetapkan sering membuat siswa mudah tergiur dengan promosi iklan produk obat-obat penguat dan pemacu konsentrasi belajar. Kalau seandainya mereka salah memilih dan tertipu oleh pesan sponsor dari promosi produk obat tertentu, hal ini akan berdampak sangat serius.

7. Wacana Prestasi Akademik memindahkan kendali kurikulum dari pendidik di ruang kelas ke organisasi yang membuat standar dan ujian

Sekarang ini apapun yang diajarkan guru di dalam kelas berorientasi kepada materi-materi ujian nasional. Apalagi Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) sebagai penyelenggaraa Ujian Nasional menerbitkan Kisi-kisi Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk setiap mata pelajaran yang di-Ujian Nasional-kan. Sebagai pendidik di ruang kelas, guru hanya fokus kepada SKL tersebut dan mengabaikan materi-materi lain yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh siswa tertentu di daerah tertentu yang notabene berbeda-beda di seluruh Indonesia. Tetapi begitulah dampak Ujian Nasional menyebabkan pendidikan di sekolah hanya sebatas SKL saja.

8. Wacana Prestasi Akademik mengakibatkan tingkat stres yang tinggi di kalangan pendidik dan siswa

Tuntutan akan prestasi akademik yang tinggi ditandai dengan nilai-nilai yang tinggi mencapai standar yang telah ditetapkan mengakibatkan tingat stres yang tinggi dan berbahaya di kalangan pendidik, siswa, bahkan orangtua dan pemerintah. Konsekuensi dari tidak tercapainya prestasi akademik seolah berdampak besar bagi masa depan generasi muda. Padahal menurut banyak hasil penelitian, keberhasil akademik itu hanya 20% saja menentukan keberhasilan seseorang dalam hidup dan kehidupan ini.

9. Wacana Prestasi Akademik meningkatkan kemungkinan siswa tinggal kelas dari tahun ke tahun dan keluar dari sekolah sebelum lulus

Sistem Pendidikan kita yang mensyaratkan kriteria prestasi akademik di setiap jenjang, tingkat dan tahun, menyebabkan meningkatnya kemungkinan siswa yang gagal naik kelas, dan bahkan banyak yang Drop Out.

10. Wacana Prestasi Akademik tidak memperhatikan perbedaan latar belakang budaya individu, gaya belajar, kecepatan belajar, serta faktor-faktor penting lain yang ada dalam kehidupan anak sesungguhnya.

Indonesia yang terdiri lebih dari 17.500 pulau dengan jumlah penduduk lebih dari 260 juta jiwa, tentunya tidak bisa disamaratakan perlakuan pendidikan di semua daerah. Standar Ujian Nasional dipaksakan harus sama antar siswa yang di Jakarta dengan siswa yang di Papua, tentu hal ini tidak dapat kita katakan adil. Tuntutan dan harapan pendidikan di Papua tentu berbeda dengan di Jakarta. Tidak semua yang sama rata itu adil. Justru yang adil itu adalah yang proporsional sesuai dengan kondisi di masing-masing daerah. Bagaimana mau disamakan target nilai Ujian di sekolah yang lengkap dengan segala fasilitas TIK dan guru dengan sekolah di tempat terpencil yang masih belum memiliki listrik apalagi jaringan internet.

11. Wacana Prestasi Akademik memotong habis nilai hakiki belajar demi belajar itu sendiri

Tujuan utama dari sekolah itu adalah untuk mendidik siswa menjadi manusia seutuhnya. Jadi nilai hakiki dari belajar itu sendiri adalah sebagai proses pendewasaan sehingga menjadi manusia seutuhnya. Ketika kegiatan belajar dikelas dirancang hanya untuk meningkatkan nilai ujian prestasi akademik, maka secara hakiki proses belajar akan menjadi kurang bermakna. Siswa tidak lagi belajar hanya untuk kesenangan dan proses pendewasaan, tetapi untuk memperoleh nilai yang tinggi pada ujian. Motivasi hakiki belajar mereka akan hancur. Kesenangan dalam belajar jarang ditemukan, yang ada hanyalah tuntutan-tuntutan untuk meraih nilai-nilai ujian.

12. Wacana Prestasi Akademik membuat makin menjamurnya program dan kegiatan yang tidak layak dan sesuai dilaksanakan sekolah.

Wacana Prestasi Akademik membuat sekolah mengabaikan hakikat belajar sebagai proses pendewasaan yang bergantung pada tingkat perkembangan seorang anak itu sendiri. Namun karena tuntutan prestasi akademik, banyak program dan kegiatan yang semestinya tidak dilakukan tetapi terjadi di sekolah. Seperti contoh pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), padahal anak seusia 6 tahun ke bawah memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang dengan proses lebih banyak bermain dan berinteraksi dengan teman dan alam sekitar. Tetapi sekarang kita temukan banyak orang tua berlomba-lomba mencari PAUD yang sudah mulai mengajarkan membaca dan berhitung. Bahkan banyak anak PAUD yang sudah dijajah dengan tugas-tugas Pekerjaan Rumah (PR), Pekerjaan Sekolah, Kertas Kerja, Belajar Komputer, Jam sekolah yang lebih panjang, dan bahkan ada tugas kelompok. Semua ini terjadi karena Wacana Prestasi Akademik yang sudah mewabah dan menjadi jiwa dari kultur sistem pendidikan kita.

Suka atau tidak suka begitulah yang kita alami dengan sistem pendidikan kita sekarang ini. Pendidikan telah merampas hak-hak perkembangan manusia yang sebenarnya secara proporsional semestinya pendidikan itu dilaksanakan kepada siapa dan bagaimana sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing individu.

Menyelamatkan Ujian Nasional

Kalau mau ditarik benang merah dari Wacana Prestasi Akademik pendidikan kita dengan segenap dampak negatif yang harus kita rasakan di atas, maka tentu pikiran kita sama bahwa biang belenggu dari Wacana Prestasi Akademik adalah Ujian Nasional. Dari sudut pandang positif kita memang harus melihat Ujian Nasional sebagai amanat UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang harus kita hormati, patuhi dan kita laksanakan sebagai alat pengendali mutu atau kualitas pendidikan nasional di seluruh tanah air Indonesia.

Tetapi selanjutnya Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 pada pasal 68 dan juga 72 menyatakan bahwa hasil Ujian Nasional digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk penentuan kelulusan peserta diri dari program tertentu atau satuan pendidikan, menuntut Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kemudian menetapkan angka-angka standar yang harus dicapai peserta didik untuk diperhitungkan sebagai syarat apakah siswa layak dinyatakan “lulus” dan berhak menerima ijazah, itulah yang kemudian membuat pengaruh luar biasa dan fundamental bagi perkembangan mutu pendidikan kita. Apa yang dipaparkan sebagai dampak negatif dari Wacana Prestasi Akademik diatas merupakan Domino effect dari kebijakan penentuan kelulusan Ujian Nasional.

Mencermati secara holistik terhadap kebijakan mutu pendidikan dan domino effect dari kebijakan Ujian Nasional, penulis berpikiran agar supaya Ujian Nasional itu kembali kepada hakikat yang sebenarnya sebagaimana diamanatkan oleh Undang Undang yakni sebagai alat untuk pemetaan dan pengendali mutu pendidikan nasional, maka jangan ditambahkan lagi fungsinya sebagai alat penentu kelulusan siswa. Sehingga hasil Ujian nasional itu benar-benar dapat dipercaya dijadikan alat pemetaan dan pengendali mutu pendidikan. Tidak seperti sekarang ini untuk mendapatkan predikat ‘lulus’ berbagai pihak menghalalkan segala cara memanipulasi hasil Ujian Nasional. Tentu hasil Ujian Nasional itu sendiri tidak dapat lagi dipercaya sebagai alat pemetaan mutu pendidikan nasional yang sebenarnya.

Penulis sebagai praktisi pendidikan hanya bisa berharap dan mengusul kepada pemerintah yang berkewenangan agar dapat mencermati dan mengevaluasi kembali isi pasal 68 dan 72 Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tersebut diatas.

TIDAK ADA YANG LULUS DAN TIDAK LULUS

Mungkin agak sedikit radikal kalau penulis mengusulkan agar semua siswa yang ikut Ujian Nasional dapat dinyatakan “TAMAT”, dan tidak ada yang “TIDAK LULUS”. Karena pada pasal 69 ayat 4 PP no. 19 tahun 2005 itu sendiri disebutkan “Peserta Ujian Nasional memperoleh surat keterangan hasil ujian nasional yang diterbitkan satuan pendidikan penyelenggara ujian nasional.” Dengan demikian tidak mesti lulus atau tidak lulus seorang peserta Ujian Nasional berhak mendapatkan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional.

Tinggal lagi secara pribadi penulis berharap kerendahan hati pemerintah untuk membuat kebijakan baru seiring dengan adanya wacana Wajib Belajar 12 tahun. Banyak pengaruh positif yang akan dirasakan kita semua secara nasional jikalau pemerintah berani surut kebelakang merubah pasal-pasal yang mengharuskan kelulusan untuk mendapatkan sertifikat berupa ‘ijazah” seperti pada pasal 89. Sebagai ilustrasi penulis dapat menggambarkan sebagai berikut:

1. Ujian Nasional dilaksanakan secara adil dan objektif dengan maksud untuk mengukur dan memetakan mutu pendidikan secara regional dan nasional, dan hasil Ujian nasional akan dituliskan pada Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional masing-masing peserta.

2. Peserta Ujian Nasional dapat mencermati hasil Ujian Nasional mereka masing-masing, apakah sudah dapat diterima atau masih belum puas dengan hasil nilai yang dicapai.

3. Jika peserta didik sudah merasa puas dengan hasil Ujian Nasional yang dicapai, maka mereka dapat menerima ijazah SKHUN dengan nilai apa adanya sesuai hasil Ujian Nasional.

4. Jika peserta didik masih merasa belum puas dengan hasil nilai Ujian Nasional yang dicapai maka mereka dapat mengulang pelajaran disekolah selama 1 (satu) semester atau 1 (satu) tahun lagi untuk mata pelajaran yang masih dianggap rendah dan kemudian mengikuti Ujian Nasional berikutnya.

5. Pilihan sepenuhnya kepada siswa dan orang tua apakah mau tamat dan menerima ijazah atau mau memperbaiki nilai. Banyak siswa yang tidak berencana kuliah tetapi langsung bekerja atau bahkan berumah tangga, sehingga berapapun nilai ujian nasional yang didapat tidak menjadi pertimbangan lagi bagi mereka yang penting tamat dan mengantongi ijazah. Sedangkan bagi mereka yang mau melanjutkan kuliah di perguruan tinggi tentu akan mempertimbangkan nilai mereka apakah bisa bersaing untuk mendapatkan bangku kuliah yang diinginkan, jika tidak diberi kesempatan untuk memperbaiki nilai mereka yang masih kurang.

6. Konsekuensinya pemerintah dapat menyelenggarakan Ujian Nasional 2 (dua) kali dalam satu tahun guna mengakomodir peserta didik yang mengulang 1 (satu) semester atau mengakomodir siswa yang tergolong ‘cepat” (akselerasi) dalam belajar dengan penerapan Sistem Kredit Semester (SKS)

7. Apabila hal ini diterapkan kita tidak akan pernah lagi menjumpai siswa yang stres berat bahkan mencoba bunuh diri karena tidak lulus Ujian Nasional

8. Kecil kemungkinan terjadi manipulasi atau kecurangan pelaksanaan Ujian Nasional dari pihak-pihak sekolah.

9. Tidak akan ada tekanan-tekanan politis dari pemerintah daerah kepada sekolah untuk meluluskan siswa 100%

10. Sistem SKS akan dapat terlaksana sesuai dengan amanat Undang Undang

11. Perguruan Tinggi dapat melakukan penerimaan mahasiswa baru setiap semester.

12. Pemerintah akan mendapatkan data yang objektif dan kredible sebagai bahan pemetaan untuk pengendalian mutu pendidikan nasional.

13. Sekolah akan lebih leluasa melakukan intervensi instruksional positif kepada siswa-siswa yang berkebutuhan dan berkecakapan khusus.

14. Pendidiikan Anak Usia Dini akan bisa lebih fokus pada memfasilitasi aktifitas masa kanak-kanak sesuai dengan tingkat perkembangannya.

15. Pelaksanaan pendidikan di sekolah akan terasa lebih ramah dan humanis sesuai dengan perkembangan anak.

16. Akan terlaksana pendidikan nasional yang berorientasi pada wacana perkembangan manusia.

Last Updated ( Thursday, 02 February 2012 13:24 )
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  Next 
  •  End 
  • »
Page 1 of 2
Banner

E-Learning

Sambutan Kepala Sekolah

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat-Nya kami dapat menyiapkan website SMA Negeri 1 Tanjungpinang ini. Kami harap website ini dapat membeikan informasi yang cukup bermakna tentang SMA Negeri 1 Tanjungpinang.

Read more...

Login Form




ISIAN BIODATA SISWA


Latest News

Popular News

Tags

Supported by

Trijaya Komputindo
Satunusa Network