Home Blog Teacher Keikhlasan di Negeri Turki

Keikhlasan di Negeri Turki

E-mail Print PDF

Tanggal 1 Agustus 2008 pukul 05.30 waktu setempat, pertama sekali penulis menginjakkan kaki di bumi Turki tepatnya di Ataturk Airport Istanbul setelah 11 jam penerbangan dengan Pesawat Turkis Airlines via Changi International Airport Singapura. Bersama 18 orang kepala sekolah SMA Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) lainnya yang berasal dari Jakarta, Bogor, Bandung, Bekasi, Pelembang, Wonogiri, Tarakan, serta pak Prof.Ibrahim Bafadhal dan ibu Rusmiharsyih,MM dari Direktorat PMPTK Depdiknas kami didampingi oleh perwakilan dari Phacific Country Social And Economic Solidarity Association PASIAD Turki yang terdiri atas Bapak Atilla Erol, Bapak Oemar, Bapak Musa dan Bapak Ufuk menuju ke homestay di Fatih College. Perjalanan dari airport ke Fatih College ditempuh dalam waktu 40 menit.


Sesuai dengan program leadership training yang telah direncanakan, kami berada di Istanbul selama 5 hari dan 5 hari berikutnya di Ankara untuk mengikuti training berupa seminar pendidikan di Turki. Selama di Istanbul kegiatan kami melaksanakan program Culture Exchange dengan berkunjung ke tempat-tempat situs bersejarah seperti:  Ayup Sultan Mosque (sebuah mesjid yang mana di lingkungannya terdapat makam sahabat Nabi Muhammad SAW), Museum Haiga Sophia (sebuah museum yang menyimpan sejarah Dinasti Oesmani, pada awalnya adalah sebuah gereja yang kemudian diubah menjadi mesjid. Kemudian diinginkan kembali menjadi gereja tetapi tidak berhasil. Oleh karena itu, didalam museum ini terdapat refleksi 2 agama yaitu agama Islam dan agama kristen), Masjid Sultan Ahmed, Museum militer Cistem Bascilica ( Di museum ini terdapat peninggalan-peninggalan sejarah perjuangan dan bala tentara dinasti Oesmani yang begitu lengkap dan mengagumkan, dan ada live show mehther yakni musik patriot yang mengiringi tentara Turki berperang pada zaman dahulu), dan Dolma Bachi Palace (Istana Raja yang dibangun dengan dilapisi emas sebanyak 13 ton).
Di Istanbul inilah kami didampingi dan banyak dibantu oleh seorang mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa dari pemerintah Turki yaitu Ahmad Saefudin dari Semarang yang telah menjalani pendidikan di Turki selama 4 tahun. Ahmad mengambil jurusan Sastra Turki sehingga tidak mengherankan jika ia sangat fasih berkomunikasi dalam bahasa Turki.
”Ahmed, nanti sama kami ya..??!!” demikian sering diucapkan oleh 3 orang ibu-ibu (bu Astrida Ka SMAN 61 Jakarta, bu Arbaiyah Ka SMAN 1 Tarakan, dan bu Rusmiharsyih). Dari sebanyak 21 orang rombongan kami hanya 3 orang inilah ibu-ibu selebihnya adalah bapak-bapak. Jadi kemana-mana kunjungan kami ibu-ibu ini sering minta didampingi oleh Ahmed ini agar bisa membantu membawa barang-barang belanjaan mereka selama perjalanan kunjungan. Ahmed tidak pernah merasa lelah dan lemah dalam membantu rombongan kami. Ketika di dalam bus menuju ke tempat-tempat kunjungan budaya dan wisata, Ahmed menjadi tour leader kami. Beliau banyak tahu mengenai tempat-tempat bersejarah di Istanbul. Dan Ahmed juga berperan sebagai interpreter dalam komunikasi kami dengan masyarakat Turki. Memang orang-orang Turki banyak yang tidak bisa bahasa Inggris apalagi bahasa Indonesia. Mereka sangat bangga dan bertahan bahasa mereka sendiri yakni Bahasa Turki.
Karena dianggap masih mahasiswa, jadi kami pun sering minta bantuan dengan Ahmed. Tidak hanya sebagai tour leader  dan interpreter Ahmed pun sering diminta tolong membeli barang-barang keperluan kami, seperti kartu dan voucher isi ulang handphone Turki, sabun mandi, dan barang-barang keperluan lainnya terutama untuk kebutuhan ibu-ibu. Tapi Ahmed tidak pernah berubah raut wajah. Masih terbayang dalam ingatan betapa wajah Ahmed sangat iklas dan tanpa pamrih dalam membantu kami.
Pada suatu masa penulis pernah minta tolong dipegangkan oleh Ahmed buku tentang Istanbul yang penulis beli dihalaman Museum Haiga Sophia. Kebetulan saat itu penulis tidak membawa tas sandang sedangkan Ahmed membawanya. Setelah pulang ke homestay Ahmed dengan wajah yang salah tingkah dan merasa bersalah mengatakan bahwa dia kehilangan buku yang saya titipkan kepadanya tadi, katanya tadi ada yang pinjam terus dia lupa. Dan dia berjanji akan menggantikannya nanti. Tetapi dengan tegas penulis mengatakan ”Jangan! tak perlu diganti... nanti kalau ketemu di tempat lain saya beli aja, pokoknya tak usah diganti.” Lagipula harganya pun hanya 10 YTL (Yeni Turki Lira) atau sekitar Rp.80.000 uang kita.
Satu hari sebelum kami terbang meninggalkan Istanbul menuju Ankara yang merupakan ibukota Turki, Ahmed memberikan sebuah buku tentang Istanbul lagi kepada penulis. Tentu saja penulis menolaknya karena penulis tidak mau diganti oleh Ahmed mengingat perhatian dan pertolongannya selama ini kepada kami sangatlah besar. Namun Ahmed sangat mendesak dan memaksa penulis untuk menerimanya, dan mengatakan kalau penulis tidak menerimanya dia akan merasa berdosa terus. Dengan sangat terpaksa penulis menerimanya, sambil berpikir akan segera memberikan uang kepada beliau nanti dalam suatu kesempatan.
Sesama teman satu rombongan kami sudah membicarakan untuk saling mengumpulkan uang untuk diserahkan kepada Ahmed yang telah membantu kami. Tetapi apa kata Ahmed saat ketua kami ingin memberikan uang kepada beliau?.. Beliau dengan tegas menolak pemberian kami dengan mengatakan: ”Jangan pak,.. saya tidak mau menerima pemberian Bapak-Bapak, kalau saya menerimanya berarti mengurangi keikhlasan saya dalam membantu Bapak. Saya ikhlas dan merasa senang dapat membantu Bapak Ibu di sini.” Kami pun tidak bisa memaksa Ahmed menerima pemberian kami saat itu. Namun demikian, kami terus berharap dan mencari kesempatan untuk menyerahkan pemberian kami saat beliau lengah dan tidak sadar sehingga tidak sempat menolak pemberian kami.
Tetapi apanyana, saat kami berada di dalam bus berangkat ke Bandara Domestik Esenboga Airport menuju ke Ankara nantinya, Ahmed seperti biasanya sebagai tour leader kami mengambil microphone dan mengucapkan kata-kata perpisahan, dan mendoakan agar kami selamat selama di Turki dan kembali lagi ke Indonesia sukses dalam karir kami masing-masing, terus berhenti dan turun di persimpangan pas di depan Medical Centre Complex tempat tinggal beliau, tanpa kami sempat berjabat tangan apalagi memberikan sesuatu apapun kepadanya. Kami semua merasa sedih dan terdiam tak terasa penulis meneteskan air mata saat itu. Kami hanya bisa melambaikan tangan kami kepadanya dan tidak tahu entah kapan dan mungkin tidak pernah lagi bertemu dengannya. Terima kasih Ahmed,.. terima kasih atas bantuan dan keikhlasanmu selama kami di Istanbul. Semoga Alllah SWT membalas budi baikmu dan sukses dalam pendidikan dan karir, cepatlah pulang ke Indonesia siapa tahu kita bisa ketemu lagi.
Ahmed adalah simbol keikhlasan yang hakiki yang pernah penulis temui. Tanpa pamrih, dan tidak mau menerima imbalan apapun hanya takut mengurangi keikhlasannya membantu sesama. Sungguh pelajaran yang sangat berharga yang penulis peroleh di Turki.


Oleh : Drs. Encik Abdul Hajar, MM (Kepala SMAN 1 Tanjungpinang)
 

Last Updated ( Thursday, 09 April 2009 15:47 )  
Banner

Sambutan Kepala Sekolah

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat-Nya kami dapat menyiapkan website SMA Negeri 1 Tanjungpinang ini. Kami harap website ini dapat membeikan informasi yang cukup bermakna tentang SMA Negeri 1 Tanjungpinang.

Read more...

Login Form




Latest News

Popular News

Tags

Supported by

Trijaya Komputindo
Satunusa Network