Home Blog Teacher "Anu" si kata Joker

"Anu" si kata Joker

E-mail Print PDF
“Anu, mak.. saye tadi kerumah nye si anu..”
“Siape yang nganu engkau?!”
“Maaf ya, saya mau pulang dulu mau menganukan TV dirumah,.. rusak..”

Kalimat-kalimat diatas sering terucapkan dalam percakapan sehari-hari masyarakat Melayu khususnya. Mungkin kata “anu” adalah kata yang paling banyak terucapkan oleh orang melayu setiap harinya. Baik oleh anak-anak, remaja maupun orang dewasa dan laki-laki maupun perempuan.
Walaupun seacara leksikal, menurut kamus bahasa Indonesia kata “anu” tidak mengandung makna/arti yang spesifik.

Di dalam sebuah kalimat, kata “anu” bisa sebagai kata benda, kata kerja, kata sifat atau bahkan sebagai kata untuk jeda permulaan kalimat. Sebab itu, penulis mengistilahkan kata “anu” si kata “joker” sebagaimana judul tulisan ini. Kata “joker” diambil dari istilah “kartu joker” pada permainan kartu trup/remi, dimana sebagai “kartu joker”  ia bisa sebagai kartu apa saja dari semua kartu trup yang ada. Bisa menjadi kartu AS, kartu 2 sampai 10, kartu Jack, Queen atau King. Bisa sebagai kartu Diamond, Love, Spade, atau Curling.

Seperti kalimat berikut, “Anu mak, saya tadi ke rumah teman..” Kata “anu’ disini persis tidak memiliki arti atau makna secara leksikal, tapi lebih berfungsi sebagai “bumbu penyedap” dalam memulai suatu kelimat. Kata “anu” di posisi awal kalimat seperti ini menunjukkan bahwa sang pembicara merasa ragu-ragu dan tidak terlalu percaya diri untuk mengatakannya,. sehingga secara spontan berdasarkan perasaan yang ada, akan terucapkan lah kata “anu” saat mau memulai kalimatnya, terutama sekali apabila ditanyakan pertanyaan yang sifatnya “menyudutkan” atau memerlukan pemikiran  terlebih dahulu sebelum menjawab. Dengan menggunakan kata “anu” maka si pembicara merasa memiliki ruang kesempatan untuk berpikir terlebih dahulu sebelum mengatakan yang sebenarnya atau mengatakan yang dia pikirkan.
Padahal kita sebagai orang yang sudah biasa mengenal persis penggunaan kata “anu” seperti ini menyadari betul bahwa kata “anu” dapat menimbulkan prasangka orang yang sebagai lawan bicara bahwa kita sebenarnya tidak begitu yakin dengan apa yang akan kita ucapkan atau mungkin mereka berpikir kita hanya “mengarang-ngarang” cerita saja. Tetapi  toh kita masih juga menggunakannya. Ya, secara spontan dan otomatis kata “anu” itu keluar begitu saja. Sepertinya kata “anu” sudah melekat betul dalam memori ingatan verbal kita dan siap sedia suatu waktu menuruti perasaan kita keluar mengalir seperti air mengisi ruang-ruang percakapan lisan kita sehingga tidak terjadi kekosongan kata dalam kalimat. Kekosongan dalam kalimat di sini seperti untuk menggantikan kata yang paling sesuai untuk menyatakan sesuatu, benda,  orang, perasaaan, dan kata kerja.  

Seperti contoh  kalimat diatas , “Siape yang nganu engkau?!”.  Kata “anu” sudah mengalami metamorfosis dengan penambahan imbuhan “ng-“. Memang imbuhan “ng-“ sering dipakai dalam bahasa Melayu dan tidak ada dalam tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Seperti kata “ngaku”, “ngacau”, dan “ngadu” yang sebenarnya hanya kependekan dari kata  “mengaku”, “mengacau” dan “mengadu”. Cuma saja entah karena kultur sosiologis masyarakat Melayu yang suka ringkas-ringkas saja, tidak suka bertele-tele dan banyak basa-basi,  sehingga sering kita dapati dalam bahasa melayu terdapat kata-kata yang telah disingkat-singkat. Imbuhan “meng-” disingkat menjadi “ng-“saja. Maka terjadilah kata “nganu” yang merupakan singkatan dari kata “menganu”.
Kata “menganu” padahal bisa berarti apa saja tergantung maunya pembicara, bisa berarti “mengajar”, “memasak”, “memukul”, “menjual” dsb. Namun demikian, kenyataan di lapangan, kata “menganu” sering berkonotasi negatif. Hal ini terjadi karena kata “menganu” sering digunakan untuk menggantikan kata-kata kerja “negatif”. Orang Melayu itu kebanyakan sungkan untuk mengatakan kata-kata negatif secara vulgar karena itu mereka menggantikannya dengan kata “menganu”. Seperti kalimat berikut;
“Siapa yang nganu dia?.., kasihan dia kan anak yatim piatu.”  
Atau, “Siapalah yang nganu dia tu,.. padahal dia kan anak  baik.”
Membaca kalimat-kalimat diatas kita tentu sudah dapat menebak maksud arti kata  “anu” sebagaimana yang dimaksudkan oleh pembicara. Makna kata “anu” sebagai “joker” memang tergantung konteksnya.
Pemaknaan dan penggunaan kata “anu” juga dapat berbeda sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis, jender bahkan tingkat pendidikan seseorang. Dikalangan anak-anak, kata “anu” mungkin lebih sering diucapkan, mengingat mereka memiliki perbendaharaan yang masih sedikit, sehingga mereka sering menggunakan kata “anu” untuk menggantikan kata-kata yang mereka maksudkan tetapi sulit untuk diucapkan. Selain itu mereka juga dalam masa proses pembelajaran verbal sehingga harus berpikir lebih dulu sebelum mengucapkan sesuatu kalimat, dan kata “anu” sering digunakan di awal kalimat pada saat mereka berpikir untuk menyusun suatu kalimat.
Berdasarkan golongan jender, makna kata ‘anu’ yang sering dipergunakan kaum wanita tentu berbeda dengan kata ‘anu’ yang sering dipergunakan kaum lelaki. Penulis tidak akan membuat contoh kalimat lelaki yang sering menggunakan kata “anu” begitu juga  perempuan, takut pembaca salah menginterpretasinya.
Berdasarkan tingkat pendidikan, kita dapat dengan mudah penggunakan kata “anu’ lebih banyak di tempat-tempat awam dibandingkan ditempat-tempat akademis, seperti sekolah, kampus dan juga perkantoran. Hal ini bukan berarti bahwa masyarakat melayu itu kebanyakan orang awam dan memiliki tingkat pengetahuan yang rendah. Kata ‘anu’ dikalangan masyarakat melayu memang sebagai “joker”  yang dapat menggantikan kata-kata apa saja. Namun demikian, secara filosofis penggunaan kat “anu” di kalangan masyarakat melayu adalah sebagai bumbu penyedap kalimat, mengurangi rasa ketersinggungan dari pihak pendengar karena kiasan dari penggunaan kata “anu” sebagai penghalus bahasa guna menghindari kata-kata vulgar.
Kata “anu” bukan saja dipakai oleh masyarakat Melayu, tetapi juga dipakai oleh sebagian suku bangsa yang ada di Indonesia. Kebetulan penulis adalah orang Melayu, dan tidak berani menjeneralisirkan opini mengingat adanya  kajian kultur budaya berbahasa yang sedikit sensitif jika dibaca oleh orang yang tidak memiliki “anu” yang cukup “anu” sehingga mereka bisa “menganu” penulis, padahal penulis sendiri tidak ada maksud untuk “menganu” mereka, apalagi sampai bermaksud membuat mereka merasa “anu”.
“Maaf ya,, anu… tadi saya hanya “anu”. Mudah-mudahan “anu” mu tidak cepat “anu”, yang penting dengan ‘menganu’ tulisan ini, kita semua bisa lebih “anu”… Pokoknya “anuuu” lah ….
Last Updated ( Saturday, 05 December 2009 09:01 )  
Banner

E-Learning

Sambutan Kepala Sekolah

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat-Nya kami dapat menyiapkan website SMA Negeri 1 Tanjungpinang ini. Kami harap website ini dapat membeikan informasi yang cukup bermakna tentang SMA Negeri 1 Tanjungpinang.

Read more...

Login Form




ISIAN BIODATA SISWA


Latest News

Popular News

Tags

Supported by

Trijaya Komputindo
Satunusa Network