Home Blog Teacher Membuka Kunci Belenggu Wacana Prestasi Akademik

Membuka Kunci Belenggu Wacana Prestasi Akademik

E-mail Print PDF

Belenggu Wacana Pendidikan

Penulis tertarik dengan terminologi Wacana Prestasi Akademik dan Wacana Perkembangan Manusia oleh Thomas Armstrong,Ph.D, seorang akademisi dan telah menulis banyak buku-buku pendidikan diantaranya best seller Multiple Intelligences in the Classroom. Tulisan beliau dalam bukunya The Best Schools: How Human Development Research Should Inform Educational Practice (Virginia, 2006) telah diterjemahkan oleh Lovely dan Mursid Widjanarko (2001) memaparkan secara faktual dan ilmiah kegalauan beliau terhadap paradigma pendidikan yang ada sekarang ini yang sudah mulai bergeser jauh dari tujuan utama sekolah yakni untuk mendidik siswa menjadi manusia seutuhnya.

Istilah Wacana Prestasi Akademik adalah suatu paradigma di dalam masyarakat umum yang memandang bahwa tujuan pendidikan semata-mata untuk mendukung, mendorong dan memfasilitasi kemampuan siswa dalam meraih nilai tinggi dan nilai tes standar dalam pelajaran sekolah, terutama pelajaran-pelajaran yang diujikan secara nasional.

Sedangkan Wacana Perkembangan Manusia sebagai suatu paradigma yang memandang bahwa pendidikan sebagai suatu upaya memfaslitasi perkembangan manuasia yang bertujuan untuk mengungkapkan atau melejitkan potensi yang terdapat dalam diri manusia, dan juga makna mengurai, membuka atau membebskan manusia dari keterkukungan, kerumitan atau rintangan.

Kritisi Wacana Prestasi Akademik

Dari dua wacana tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya sistem pendidikan kita menganut Wacana Prestasi Akademik. Sebagai pendidik, pengajar, peserta didik, orang tua, masyarakat dan juga pemerintah selama ini orientasi tujuan kita dalam belajar dan mengajar adalah membuat anak berhasil secara akademis yang ditandai dengan angka-angka nilai ujian. Prestasi akademik siswa ditekankan muatan akademik (kesusasteraan, sains dan matematika) dan keterampilan akademik (membaca, menjlis, memecahkan masalah dan berpikir kritis, plus keterampilan Teknologi Informasi dan Komputer).

Dengan Wacana Prestasi Akademik, kurikulum pendidikan kita cenderung ketat, seragam dan wajib bagi semua siswa hampir tanpa pengecualian. Siswa dituntut untuk menerima pelajaran yang sama semuanya, makin lama makin sulit; mendengarkan penjelesan guru lebih lama; belajar lebih keras; mengerjakan pekerjaan rumah lebih banyak daripada yang mereka alami sebelumnya; dan lebih banyak membaca, menulis, serta terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah.

Siswa dijejali dengan muatan kurikulum yang ketat, untuk menjawab tantangan masa depan yang semakin sulit. Ujian Nasional dengan standar nilai kelulusan yang sedemikian tinggi bagi seluruh siswa tanpa ‘pengecualian’, dengan pandangan visi kedepan mempersiapkan generasi yang mampu bersaing secara global dengan kemampuan muatan akademik dan keterampilan akademik yang dimiliki. Jika kebanyakan siswa yang tidak mencapai standar nilai Ujian Nasional yang ditetapkan, pihak legislatif dalam hal ini DPR dan DPRD menilai pemerintah telah gagal melaksanakan sistem pendidikan yang telah diamanatkan. Pemerintah yang dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ditingkat Pusat dan daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota) menganggap Satuan Pendidikan (Sekolah) telah gagal menyelenggarakan proses pendidikan yang baik sehingga siswa banyak yang tidak lulus Ujian Nasional. Kepala Sekolah kecewa atas kerja keras guru selama ini yang telah melaksanakan proses belajar mengajar di kelas walaupun sebagian besar siswanya masih banyak yang lulus. Guru merasa kasihan dan prihatin atas masa depan siswanya yang tidak lulus, karena banyak diantara mereka yang justru memiliki potensi yang jauh lebih baik dibandingkan mereka yang lulus. Siswa yang tidak lulus seperti divonis ‘gagal’ dalam hidup dan kehidupannya, terbanyang masa depan yang gelap di depan mata. Begitu pula halnya dengan orang tua mereka, ada rasa malu membayangi antar sesama orang tua dan tetangga lainnya karena anak mereka tidak lulus Ujian Nasional, justru cendrung menyalahi dan mengadili anak mereka yang tidak lulus karena tidak sungguh-sungguh belajar dan dianggap tidak amanah kepada orang tua.

Begitulah segelintir rangkaian asumsi yang membangun Wacana Prestasi Akademik yang mewarnai pendidikan kita pada saat ini. Pasti kita semua sepakat bahwa prestasi akademik itu adalah hal yang baik. Kita semua pasti menginginkan siswa yang bekerja keras, banyak belajar, mendapat nilai yang bagus, dan nantinya akan menjadi seseorang yang berguna dalam hidupnya. Masalahnya paradigma pendidikan kita sekarang ini lebih sebatas pada kerangka memikirkan skor nilai ujian saja, banyak sekali aspek dan makna pendidikan yang sepertinya terabaikan, memudar tertutupi dengan pemikiran akan nilai-nilai ujian semata. Kalaupun ada wacana Pendidikan Karakter masih sebatas wacana pembuka saja, belum menyentuh kepada substansi operasional yang dapat diimplementasikan terutama di dalam kelas.

Dampak Negatif Wacana Prestasi Akademik

Konsentrasi kita yang berlebihan untuk menciptakan dan mencapai standar yang sama, mengimplementasikan kurikulum yanag ketat dan menaikkan nilai-nilai ujian, menimbulkan konsekuensi atau dampai negatif yang nyata bagi pendidikan kita. Beberapa dampak negatif tersebut diuraiakan oleh Armstrong sebagai berikut:

1. Wacana Prestasi Akademik menimbulkan bidang-bidang yang terabaikan di kurikulum, yang merupakan bagian dari pendidikan secara utuh yang diperlukan siswa guna meraih keberhasilan dan pemenuhan dalam hidup.

Karena konsentrasi kita pada pencapaian hasil Ujian Nasional semata, yang hanya terfokus pada mata pelajaran tertentu saja, sehingga pelajaran yang lainnya seperti Agama, PKn, Seni Budaya, Penjaskes dan lainnya terabaikan dan dianggap tidak penting. Padahal banyak siswa yang memiliki potensi yang tinggi dalam bidang Seni Budaya dan Olahraga misalnya yang justru dapat menjadi kunci sukses keberhasilan mereka di masa yang akan datang.

2. Wacana Prestasi Akademik mengakibatkan terjadinya pengabaian intervensi instruksional positif yang tidak bisa dinilai oleh data dari penelitian ilmiah.

Sistem pendidikan di sekolah yang menyamaratakan siswa, program, cara dan target belajar mereka dalam satu kelas, hampir tidak memberi peluang kepada guru untuk melakukan tindakan-tindakan instruksional positif tertentu kepada siswa tertentu yang mungkin tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan karena tidak bisa diteliti secara ilmiah. Sehingga guru sangat jarang melakukan tindakan-tindakan luar biasa untuk membantu siswa memahami satu materi pelajaran selain melakukan kegiatan pembelajaran biasa pada umumnya.

3. Wacana Prestasi Akademik mendorong pengajaran hanya demi persiapan menghadapi ujian.

Momok Ujian Nasional yang merupakan tujuan dan target keberhasilan pendidikan di sekolah membuat sekolah dan guru melakukan rekayasa proses pembelajaran hanya untuk menghadapi ujian saja. Sehingga seringkali proses belajar mengajar di kelas tidak ubahnya seperti kelas Bimbingan Belajar (Bimbel). Bahkan beberapa sekolah ternama di kota-kota besar di Indonesia tidak malu-malu lagi bekerjasama dengan pihak Lembaga Bimbingan Belajar dengan mengalokasikan jadwal jam pelajaran tersendiri setiap hari untuk persiapan menghadapi Ujian Nasional.

4. Wacana Prestasi Akademik mendorong siswa menyontek dan menjiplak

Takut gagal dan mendapat nilai dibawah standar Ujian Nasional yang telah ditetapkan oleh Pemerintah, menyebabkan siswa berusaha menyontek dan menjiplak untuk mendapatkan nilai yang lebih baik. Hal ini disebabkan karena orientasi keberhasilan belajar siswa hanya diukur dengan angka-angka nilai semata, yang tertanam pada pikiran siswa adalah bagaimana mendapatkan nilai bukan ilmu yang berguna bagi hidup dan kehidupan mereka.

5. Wacana Prestasi Akademik mendorong manipulasi hasil ujian oleh guru dan kepala sekolah

Di banyak sekolah di seluruh Indonesia, kepala sekolah dan guru melakukan praktik manipulasi hasil ujian dan praktik kecurangan dalam penyelenggaraan Ujian Nasional, agar siswa-siswa mereka mendapat nilai yang baik, sehingga sekolah mereka dianggap berhasil. Ditambah lagi Pemerintah Daerah mengiming-imingkan penghargaan dan hadiah kepada sekolah yang meraih kelulusan 100%, hal ini menambah kuat mengakarnya Wacana Prestasi Akademik. Bukan proses dan cara bagaimana mempersiapkan siswa dengan ilmu-ilmu yang berguna yang menjadi perhatian, tetapi berapa persentase kelulusan yang menjadi pertimbangan apakah sekolah (kepala sekolah dan guru) berhasil atau tidak.

6. Wacana Prestasi Akademik mendorong siswa menggunakan bahan-bahan ilegal untuk membantuk menigkatkan kinerja belajar.

Tuntutan dan tekanan kepada seluruh siswa untuk mencapai target nilai Ujian Nasional yang telah ditetapkan sering membuat siswa mudah tergiur dengan promosi iklan produk obat-obat penguat dan pemacu konsentrasi belajar. Kalau seandainya mereka salah memilih dan tertipu oleh pesan sponsor dari promosi produk obat tertentu, hal ini akan berdampak sangat serius.

7. Wacana Prestasi Akademik memindahkan kendali kurikulum dari pendidik di ruang kelas ke organisasi yang membuat standar dan ujian

Sekarang ini apapun yang diajarkan guru di dalam kelas berorientasi kepada materi-materi ujian nasional. Apalagi Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) sebagai penyelenggaraa Ujian Nasional menerbitkan Kisi-kisi Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk setiap mata pelajaran yang di-Ujian Nasional-kan. Sebagai pendidik di ruang kelas, guru hanya fokus kepada SKL tersebut dan mengabaikan materi-materi lain yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh siswa tertentu di daerah tertentu yang notabene berbeda-beda di seluruh Indonesia. Tetapi begitulah dampak Ujian Nasional menyebabkan pendidikan di sekolah hanya sebatas SKL saja.

8. Wacana Prestasi Akademik mengakibatkan tingkat stres yang tinggi di kalangan pendidik dan siswa

Tuntutan akan prestasi akademik yang tinggi ditandai dengan nilai-nilai yang tinggi mencapai standar yang telah ditetapkan mengakibatkan tingat stres yang tinggi dan berbahaya di kalangan pendidik, siswa, bahkan orangtua dan pemerintah. Konsekuensi dari tidak tercapainya prestasi akademik seolah berdampak besar bagi masa depan generasi muda. Padahal menurut banyak hasil penelitian, keberhasil akademik itu hanya 20% saja menentukan keberhasilan seseorang dalam hidup dan kehidupan ini.

9. Wacana Prestasi Akademik meningkatkan kemungkinan siswa tinggal kelas dari tahun ke tahun dan keluar dari sekolah sebelum lulus

Sistem Pendidikan kita yang mensyaratkan kriteria prestasi akademik di setiap jenjang, tingkat dan tahun, menyebabkan meningkatnya kemungkinan siswa yang gagal naik kelas, dan bahkan banyak yang Drop Out.

10. Wacana Prestasi Akademik tidak memperhatikan perbedaan latar belakang budaya individu, gaya belajar, kecepatan belajar, serta faktor-faktor penting lain yang ada dalam kehidupan anak sesungguhnya.

Indonesia yang terdiri lebih dari 17.500 pulau dengan jumlah penduduk lebih dari 260 juta jiwa, tentunya tidak bisa disamaratakan perlakuan pendidikan di semua daerah. Standar Ujian Nasional dipaksakan harus sama antar siswa yang di Jakarta dengan siswa yang di Papua, tentu hal ini tidak dapat kita katakan adil. Tuntutan dan harapan pendidikan di Papua tentu berbeda dengan di Jakarta. Tidak semua yang sama rata itu adil. Justru yang adil itu adalah yang proporsional sesuai dengan kondisi di masing-masing daerah. Bagaimana mau disamakan target nilai Ujian di sekolah yang lengkap dengan segala fasilitas TIK dan guru dengan sekolah di tempat terpencil yang masih belum memiliki listrik apalagi jaringan internet.

11. Wacana Prestasi Akademik memotong habis nilai hakiki belajar demi belajar itu sendiri

Tujuan utama dari sekolah itu adalah untuk mendidik siswa menjadi manusia seutuhnya. Jadi nilai hakiki dari belajar itu sendiri adalah sebagai proses pendewasaan sehingga menjadi manusia seutuhnya. Ketika kegiatan belajar dikelas dirancang hanya untuk meningkatkan nilai ujian prestasi akademik, maka secara hakiki proses belajar akan menjadi kurang bermakna. Siswa tidak lagi belajar hanya untuk kesenangan dan proses pendewasaan, tetapi untuk memperoleh nilai yang tinggi pada ujian. Motivasi hakiki belajar mereka akan hancur. Kesenangan dalam belajar jarang ditemukan, yang ada hanyalah tuntutan-tuntutan untuk meraih nilai-nilai ujian.

12. Wacana Prestasi Akademik membuat makin menjamurnya program dan kegiatan yang tidak layak dan sesuai dilaksanakan sekolah.

Wacana Prestasi Akademik membuat sekolah mengabaikan hakikat belajar sebagai proses pendewasaan yang bergantung pada tingkat perkembangan seorang anak itu sendiri. Namun karena tuntutan prestasi akademik, banyak program dan kegiatan yang semestinya tidak dilakukan tetapi terjadi di sekolah. Seperti contoh pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), padahal anak seusia 6 tahun ke bawah memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang dengan proses lebih banyak bermain dan berinteraksi dengan teman dan alam sekitar. Tetapi sekarang kita temukan banyak orang tua berlomba-lomba mencari PAUD yang sudah mulai mengajarkan membaca dan berhitung. Bahkan banyak anak PAUD yang sudah dijajah dengan tugas-tugas Pekerjaan Rumah (PR), Pekerjaan Sekolah, Kertas Kerja, Belajar Komputer, Jam sekolah yang lebih panjang, dan bahkan ada tugas kelompok. Semua ini terjadi karena Wacana Prestasi Akademik yang sudah mewabah dan menjadi jiwa dari kultur sistem pendidikan kita.

Suka atau tidak suka begitulah yang kita alami dengan sistem pendidikan kita sekarang ini. Pendidikan telah merampas hak-hak perkembangan manusia yang sebenarnya secara proporsional semestinya pendidikan itu dilaksanakan kepada siapa dan bagaimana sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing individu.

Menyelamatkan Ujian Nasional

Kalau mau ditarik benang merah dari Wacana Prestasi Akademik pendidikan kita dengan segenap dampak negatif yang harus kita rasakan di atas, maka tentu pikiran kita sama bahwa biang belenggu dari Wacana Prestasi Akademik adalah Ujian Nasional. Dari sudut pandang positif kita memang harus melihat Ujian Nasional sebagai amanat UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang harus kita hormati, patuhi dan kita laksanakan sebagai alat pengendali mutu atau kualitas pendidikan nasional di seluruh tanah air Indonesia.

Tetapi selanjutnya Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 pada pasal 68 dan juga 72 menyatakan bahwa hasil Ujian Nasional digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk penentuan kelulusan peserta diri dari program tertentu atau satuan pendidikan, menuntut Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kemudian menetapkan angka-angka standar yang harus dicapai peserta didik untuk diperhitungkan sebagai syarat apakah siswa layak dinyatakan “lulus” dan berhak menerima ijazah, itulah yang kemudian membuat pengaruh luar biasa dan fundamental bagi perkembangan mutu pendidikan kita. Apa yang dipaparkan sebagai dampak negatif dari Wacana Prestasi Akademik diatas merupakan Domino effect dari kebijakan penentuan kelulusan Ujian Nasional.

Mencermati secara holistik terhadap kebijakan mutu pendidikan dan domino effect dari kebijakan Ujian Nasional, penulis berpikiran agar supaya Ujian Nasional itu kembali kepada hakikat yang sebenarnya sebagaimana diamanatkan oleh Undang Undang yakni sebagai alat untuk pemetaan dan pengendali mutu pendidikan nasional, maka jangan ditambahkan lagi fungsinya sebagai alat penentu kelulusan siswa. Sehingga hasil Ujian nasional itu benar-benar dapat dipercaya dijadikan alat pemetaan dan pengendali mutu pendidikan. Tidak seperti sekarang ini untuk mendapatkan predikat ‘lulus’ berbagai pihak menghalalkan segala cara memanipulasi hasil Ujian Nasional. Tentu hasil Ujian Nasional itu sendiri tidak dapat lagi dipercaya sebagai alat pemetaan mutu pendidikan nasional yang sebenarnya.

Penulis sebagai praktisi pendidikan hanya bisa berharap dan mengusul kepada pemerintah yang berkewenangan agar dapat mencermati dan mengevaluasi kembali isi pasal 68 dan 72 Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tersebut diatas.

TIDAK ADA YANG LULUS DAN TIDAK LULUS

Mungkin agak sedikit radikal kalau penulis mengusulkan agar semua siswa yang ikut Ujian Nasional dapat dinyatakan “TAMAT”, dan tidak ada yang “TIDAK LULUS”. Karena pada pasal 69 ayat 4 PP no. 19 tahun 2005 itu sendiri disebutkan “Peserta Ujian Nasional memperoleh surat keterangan hasil ujian nasional yang diterbitkan satuan pendidikan penyelenggara ujian nasional.” Dengan demikian tidak mesti lulus atau tidak lulus seorang peserta Ujian Nasional berhak mendapatkan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional.

Tinggal lagi secara pribadi penulis berharap kerendahan hati pemerintah untuk membuat kebijakan baru seiring dengan adanya wacana Wajib Belajar 12 tahun. Banyak pengaruh positif yang akan dirasakan kita semua secara nasional jikalau pemerintah berani surut kebelakang merubah pasal-pasal yang mengharuskan kelulusan untuk mendapatkan sertifikat berupa ‘ijazah” seperti pada pasal 89. Sebagai ilustrasi penulis dapat menggambarkan sebagai berikut:

1. Ujian Nasional dilaksanakan secara adil dan objektif dengan maksud untuk mengukur dan memetakan mutu pendidikan secara regional dan nasional, dan hasil Ujian nasional akan dituliskan pada Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional masing-masing peserta.

2. Peserta Ujian Nasional dapat mencermati hasil Ujian Nasional mereka masing-masing, apakah sudah dapat diterima atau masih belum puas dengan hasil nilai yang dicapai.

3. Jika peserta didik sudah merasa puas dengan hasil Ujian Nasional yang dicapai, maka mereka dapat menerima ijazah SKHUN dengan nilai apa adanya sesuai hasil Ujian Nasional.

4. Jika peserta didik masih merasa belum puas dengan hasil nilai Ujian Nasional yang dicapai maka mereka dapat mengulang pelajaran disekolah selama 1 (satu) semester atau 1 (satu) tahun lagi untuk mata pelajaran yang masih dianggap rendah dan kemudian mengikuti Ujian Nasional berikutnya.

5. Pilihan sepenuhnya kepada siswa dan orang tua apakah mau tamat dan menerima ijazah atau mau memperbaiki nilai. Banyak siswa yang tidak berencana kuliah tetapi langsung bekerja atau bahkan berumah tangga, sehingga berapapun nilai ujian nasional yang didapat tidak menjadi pertimbangan lagi bagi mereka yang penting tamat dan mengantongi ijazah. Sedangkan bagi mereka yang mau melanjutkan kuliah di perguruan tinggi tentu akan mempertimbangkan nilai mereka apakah bisa bersaing untuk mendapatkan bangku kuliah yang diinginkan, jika tidak diberi kesempatan untuk memperbaiki nilai mereka yang masih kurang.

6. Konsekuensinya pemerintah dapat menyelenggarakan Ujian Nasional 2 (dua) kali dalam satu tahun guna mengakomodir peserta didik yang mengulang 1 (satu) semester atau mengakomodir siswa yang tergolong ‘cepat” (akselerasi) dalam belajar dengan penerapan Sistem Kredit Semester (SKS)

7. Apabila hal ini diterapkan kita tidak akan pernah lagi menjumpai siswa yang stres berat bahkan mencoba bunuh diri karena tidak lulus Ujian Nasional

8. Kecil kemungkinan terjadi manipulasi atau kecurangan pelaksanaan Ujian Nasional dari pihak-pihak sekolah.

9. Tidak akan ada tekanan-tekanan politis dari pemerintah daerah kepada sekolah untuk meluluskan siswa 100%

10. Sistem SKS akan dapat terlaksana sesuai dengan amanat Undang Undang

11. Perguruan Tinggi dapat melakukan penerimaan mahasiswa baru setiap semester.

12. Pemerintah akan mendapatkan data yang objektif dan kredible sebagai bahan pemetaan untuk pengendalian mutu pendidikan nasional.

13. Sekolah akan lebih leluasa melakukan intervensi instruksional positif kepada siswa-siswa yang berkebutuhan dan berkecakapan khusus.

14. Pendidiikan Anak Usia Dini akan bisa lebih fokus pada memfasilitasi aktifitas masa kanak-kanak sesuai dengan tingkat perkembangannya.

15. Pelaksanaan pendidikan di sekolah akan terasa lebih ramah dan humanis sesuai dengan perkembangan anak.

16. Akan terlaksana pendidikan nasional yang berorientasi pada wacana perkembangan manusia.

Last Updated ( Thursday, 02 February 2012 13:24 )  
Banner

E-Learning

Sambutan Kepala Sekolah

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat-Nya kami dapat menyiapkan website SMA Negeri 1 Tanjungpinang ini. Kami harap website ini dapat membeikan informasi yang cukup bermakna tentang SMA Negeri 1 Tanjungpinang.

Read more...

Login Form




ISIAN BIODATA SISWA


Latest News

Popular News

Tags

Supported by

Trijaya Komputindo
Satunusa Network