Home Blog Teacher Pendidikan Budi Pekerti Berasas Pancasila dan Gurindam 12

Pendidikan Budi Pekerti Berasas Pancasila dan Gurindam 12

E-mail Print PDF

Pendidikan Budi PekertiSudah hampir 14 tahun perjalanan Era Reformasi , yang paling terasa adalah begitu derasnya fakta-fakta krisis moral atau demoralisasi di semua sisi kehidupan dan lapisan masyarakat. Tontonan kejadian-kejadian yang mencerminkan penyakit moral baik di lingkungan masyarakat bawah hingga atas, baik anak-anak maupun orang tua, sudah menjadi menu santapan sehari-hari oleh kita semua di seluruh media massa yang ada baik media cetak maupun elektronik. Pertelingkahan politik dan carut-marutnya penegakan hukum yang terjadi membuat Pemerintah semakin tidak berdaya menahan arus demoralisasi ini. Semakin nyata sudah bahwa di Era Reformasi ini, nilai-nilai budi pekerti luhur sebagai karakter bangsa ini sudah semakin punah.

Rakyat ini merindukan keamanan dan ketertiban yang dirasakan pada saat Orde Baru dahulu. Bangsa ini harus mencari kembali akar budayanya, sebagai nilai-nilai dasarnya atau basic and core values –nya. Maka sempena Kebangkitan Nasional tahun ini semua sepakat bahwa nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam Pancasila sebagai ideologi kehidupan berbangsa dan bernegara harus ditanamkan dan diinternalisasikan kedalam sendi-sendi hidup dan kehidupan bangsa ini. Bahwa MPR-pun sudah menetapkan bahwa Pancasila kembali diajarkan di sekolah. Bahwa pendidikan budi pekerti harus dilaksanakan secara terprogram, sistematis, komprehensif dan holistik terutama di sekolah melalui kurikulum yang ada.

Tema Peringatan Hari Pendidikan Nasional kita tahun 2011 ini adalah “Raih Prestasi, Junjung Tinggi Budi Pekerti”. Begitulah penekanan atau stressing point Pendidikan Nasional kita dalam membangun bangsa ini, dimana Pendidikan Budi Pekerti harus diajarkan sejalan dengan pembelajaran materi kurikulum yang ada. Dalam hal Pendidikan Budi Pekerti, bapak Menteri Pendidikan Nasional menegaskan salah satu cara yang paling utama dalam pendidikan budi pekerti adalah dengan mengajarkan tradisi dan budaya.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melalui Dinas Pendidikan telah dan sedang melaksanakan Program-program kegiatan pendidikan budi pekerti, seperti mengadakan TOT (Training of Trainer) guru dari jenjang SD/MI sampai SMA/MA tentang Pendidikan Budi Pekerti untuk mata pelajaran Pend.Agama, PKn dan Bahasa Indonesia. Dengan segenap potensi tradisi budaya Melayu yang dimiliki dari zaman ke zaman, terutama Gurindam 12 sebagai ajaran dan pegangan hidup masyarakat di Kepulauan Riau ini, penyelenggaraan pendidikan budi pekerti di sekolah di Provinsi Kepulauan Riau ini hendaknya mencerminkan dan mengajarkan pula nilai-nilai tradisi budaya melayu kepada peserta didik. Banyak ajaran berupa tunjuk ajar dan pantang larang sebagai panduan hidup masyarakat melayu pada zaman dahulu, yang telah terbukti dapat membentuk karakter bangsa melayu yang santun dan berbudi pekerti, sudah mulai diabaikan dan dilupakan.

Dalam TOT Pendidikan Budi Pekerti ini, para guru peserta TOT diarahkan dan dilatih untuk menyusun format dan pedoman pengintegrasian nilai budi pekerti dan budaya melayu kedalam pembelajaran. Nilai budi pekerti dan budaya melayu dalam pendidikan budi pekerti di Provinsi Kepulauan Riau ini adalah berupa nilai-nilai karakter bangsa sesuai dengan SKL dan SK/KD yanga ada dari tiap jenjang pendidikan, nilai-nilai luhur Pancasila dan Gurindam 12. Pancasila dan Gurindam 12 harus diajarkan dengan secara nyata dan tegas di sekolah, tidak hanya oleh guru mata pelaran tertentu saja seperti PKn, B.Indonesia dan Pendidikan Agama tetap juga pada Mata Pelajaran lainnya. Hanya saja bagaimana format dan bentuk pengintegrasian nilai-nilai itu dilakukan oleh pendidik harus dipersiapkan secara komprehensif dan sistematis sehingga tidak terjadi kesalahpahaman (misunderstanding) dan kerancuan dalam pelaksanaannya di kelas. Karena pendidikan budi pekerti bukan hanya tanggung jawab dari semua guru mata pelajaran bukan guru mata pelajaran tertentu saja.

Penulis, sebagai salah seorang nara sumber dalam kegiatan TOT Pendidikan Budi Pekerti tersebut meyakini betul bahwa dengan format dan pola pengintegrasian budi pekerti dan budaya melayu yang sedang disusun pada TOT tersebut akan dapat menjadi pedoman dan panduan bagi semua guru di Provinsi Kepulauan Riau ini dalam mengajarkan nilai-nilai budi pekerti dan Budaya Melayu di kelas. Tujuan utama dari pendidikan budi pekerti di Provinsi Kepulauan Riau ini adalah bagaimana kultur sekolah yang ada di Provinsi ini benar-benar ditata dan dikelola mencerminkan budi pekerti yang luhur berasas budaya melayu, dan proses pembelajaran di kelas diwarnai dengan pendidikan budi pekerti dan dihiasi tradisi budaya melayu.Tradisi budaya melayu yang dijadikan media dan sumber pendidikan budi pekerti adalah Gurindam 12, Pantun, Syair, Bidal, Ungkapan Pribahasa
dan Pantang Larang, Cerita Rakyat dan lainnya. Gurindam 12 dijadikan sebagai nilai-nilai budi pekerti tersendiri sebagaimana halnya Pancasila, karena Gurindam 12 karya Raja Ali Haji sudah menjadi icon dari pendidikan budi pekerti masyarakat melayu Kepulauan Riau. Gurindam 12 yang diterbitkan pertama dalam teks Jawi (Arab Melayu) dan diterjemahkan ke bahasa Belanda oleh E.Netscher, yang dimuat dalam Tijdschrift van het Bataviaash Genootschap II tahun 1985, berisi tentang pedoman agtau ajaran dalam menjalani hidup dan kehidupan agar kita menjadi manusia yang sesungguhnya sebagai makhluk Allah di muka bumi ini sehingga akan beroleh kebahagiaan dan keselamatan sama ada di dunia ataupun di akhirat. Sebab itu dalam pendidikan budi pekerti Gurindam 12 ditempatkan sesanding seiring dengan Pancasila. Berikut beberapa bait Gurindam 12.

Barang siapa tiada memegang agama

Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

(Bait 1 Pasal 1)

Barang siapa meninggalkan sembahyang

Seperti rumah tiada bertiang

(Bait 2 Pasal 2)

Apabila terpelihara lidah

Niscaya dapat daripadanya faedah

(Bait 3 Pasal 3)

PAIKEM dengan Tradisi Budaya Melayu

PAIKEM didefinisikan sebagai pendekatan mengajar (approach of teaching) yang digunakan bersama metode tertentu dan berbagai media pengajaran yang disertai penataan lingkungan sedemikian rupa agar proses pembelajaran menjadi aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Sebagaimana kepanjangan PAIKEM itu yakni Pembelajaran yang Aktif, Inovatif, Kreatif, Effektif dan Menyenangkan. Dengan demikian, para siswa merasa tertarik dan mudah menyerap pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan. Selain itu, PAIKEM juga memungkinkan siswa melakukan kegiatan yang beragam untuk mengembangkan sikap, pemahaman, dan keterampilannya sendiri dalam arti tidak semata-mata “disuapi” guru.

Dalam kaitannya dengan tradisi budaya melayu, proses pembelajaran akan semakin PAIKEM apabila diwarnai dengan Pantun, Syair, Bidal, Ungkapan Pribahasa dan Pantang Larang, dan Cerita Rakyat. Dapatlah kita bayangkan sebegitu menarik dan menyenangkannya kalau para guru sekali-sekali menggunakan pantun dalam pembelajaran di kelas. Saat siswa sudah mulai tidak konsentrasi dalam pelajaran, guru dapat menarik perhatian mereka dengan pantun, apabila guru ingin menyampaikan pesan dan nasehat dapat pula menggunakan pantun. Dengan pantun isi atau makna pengajaran dan nasehat dapat lebih sedap didengar dan akan lebih ‘terasa’ tertanam dalam hati sanubari. Karena dengan seni olah kata dalam pantun akan dapat menyentuh hati dan perasaan siswa sehingga akan memberikan kesan yang lebih dalam. Seperti contoh pantun berikut yang ditulis oleh salah seorang guru PKn peserta TOT.

Kain sorban bersama peci

Baik dipakai dikala shalat

Hanya Allah Yang Maha Suci

Jangan lupakan setiap saat


Dikala senja membaca kitab

Kitab dibaca dengan alunan

Jika saudara orang beradab

Sikap adil jadi cerminan


Pantun disini adalah sebagai media pembelajaran, dengan pantun guru dapat menyampaikan materi bahan ajar atau petunjuk ajar budi pekerti yang semestinya diketahui dan dimiliki oleh para siswa. Sebab itu pantun tidak hanya ada pada mata pelajaran B.Indonesia saja, tetapi dapat disampaikan di semua mata pelajaran. Guru Matematika, IPA, IPS dan yang lainnya dapat memanfaatkan pantun Begitu sebagai media pembelajaran.

Begitu juga halnya dengan Syair, Bidal, Ungkapan, Pribahasa, Pantang Larang, dan Cerita Rakyat, tinggal lagi bagaimana mempersiapkan guru yang mahir merancang proses pembelajaran di kelasnya yang diwarnai dengan unsur-unsur tradisi budaya ini dengan tanpa mengurangi substansi materi bahan ajar sesuai dengan target kurikulum. Untuk itulah perlu pendidikan dan pelatihan serta petunjuk teknis bagi para guru dari jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA dan SMK.

Membangun Komitmen Kebijakan Bersama

Ditandai dengan pelepasan balon oleh Gubernur Kepulauan Riau H.Muhammad Sani di halaman kantor Gubernur Kepulauan Riau, pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional tanggal 21 Mei 2011 yang lalu, Pendidikan Budi Pekerti Yang berasas Pancasila dan Gurindam 12 sudah mulai diprogramkan dan dilaksanakan di sekolah di seluruh provinsi Kepulauan Riau ini. Melalui para guru peserta TOT pendidikan budi pekerti yang berasal dari 7 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Kepulauan Riau ini, Format Pendidikan Budi Pekerti melalui Pengintegasian Nilai Budi Pekerti dan Budaya Melayu dapat ditumbuhkembangkan dan diaplikasikan di daerah kabupaten/kota masing-masing. Secara bertahap setelah Pelaksanaan TOT, dilanjutkan dengan Penyiapan Buku Panduan Pendidikan Budi Pekerti di Provinsi Kepri, upaya desiminasi kepada seluruh stakeholder Pendidikan daerah, pelaksanaan sistem pendidikan budi pekerti yang sistematis dan holistik pada sektor dinas pendidikan di pemerintah kabupaten/kota dan Provinsi Kepulauan Riau.

Penulis membayangkan semua kita baik sebagai anggota masyarakat, orang tua, guru, kepala sekolah, pengawas, dinas pendidikan kabupaten/kota dan provinsi bahkan anggota DPRD, Bupati/Walikota dan Gubernur salling bekerjasama bahu membahu dengan satu visi, misi, komitmen dan arah kebijakan dan program yang sama yakni menyelenggarakan pendidikan budi pekerti dengan berasaskan Pancasila dan Budaya Melayu guna mewujudkan SDM Kepri yang memiliki prestasi yang tinggi dan menjunjung tinggi budi pekerti. Policy Kebijakan Gubernur Kepri yang sudah tidak diragukan lagi terhadap Pendidikan Budi Pekerti, dan juga Bupati dan Walikotanya mengakomodir dan memfasilitasi Program Pendidikan Budi Pekerti di Kabupaten/Kota. Selanjutnya Dinas Pendidikan Provinsi mengadakan Pendidikan dan Pelatihan berupa TOT dan sebagainya, mempersiapkan Petunjuk Teknis dan Pedoman, dan mengkoordinasikan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota untuk memfasilitasi, mengkoordinasikan, dan mengevaluasi pelaksanaan pendidikan budi pekerti sebagai upaya pemetaan pelaksanaan pendidikan budi pekerti di daerah masing-masing. Kepala sekolah menata dan mengelola sekolah baik fisik maupun non fisik, baik akademis maupun non akademis, yang mencerminkan sebagai sekolah penyelenggara pendidikan budi pekerti dan budaya melayu. Para guru menyiapkan dan melaksanakan proses pembelajaran yang mengintegrasikan pendidikan budi pekerti dan nilai budaya melayu di kelasnya masing-masing. Para orang tua dan masyarakat bekerja sama dengan sekolah, melalui komunikasi yang intensif dan proaktif dalam membina budi pekerti anak, keluarga dan warga mereka. Adanya sistem pemberian penghargaan (reward) bagi pihak sekolah, guru, dan daerah kabupaten/kota yang telah menyelenggarakan pendidikan budi pekerti dengan baik dan memberikan “Assistensi” bagi yang belum optimal melaksanakannya. Penghargaan dapat berupa hadian piala, sertifikat dan uang pembinaan, sedangkaan “assistensi” dapat berupa bantuan atau subsidi dana dan tenaga bimbingan dan pembinaan.

Dengan adanya kondisi kerja sama yang harmonis dan kooperatif sedemikian dalam bayangan, penulis yakin dan percaya lambat laun, pendidikan budi pekerti Provinsi akan membuahkan hasil berupa SDM yang unggul dalam pengetahuan dan keterampilan, santun dalam budi bahasa.

Last Updated ( Friday, 03 February 2012 17:25 )  
Banner

E-Learning

Sambutan Kepala Sekolah

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat-Nya kami dapat menyiapkan website SMA Negeri 1 Tanjungpinang ini. Kami harap website ini dapat membeikan informasi yang cukup bermakna tentang SMA Negeri 1 Tanjungpinang.

Read more...

Login Form




ISIAN BIODATA SISWA


Latest News

Popular News

Tags

Supported by

Trijaya Komputindo
Satunusa Network